BISNISREVIEW.COM - Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Wisnu Wahyudi mengungkapkan harusnya limbah peternakan babi diolah lebih dulu dan jika ada bangkai, harus dibakar dan dikubur.







"Ini tidak boleh sembarangan, apalagi dari hasil sidak diketahui ada peternakan yang izinnya habis sejak 2016. Dan jika perizinan ini tidak diurus, maka peternakannya bisa ditutup," tegas Wisnu di Semarang, Jumat (24/1/2020).







Wisnu juga mengimbau agar ketua paguyubam bisa lebih proaktif dalam berkomunikasi dengan anggotanya.







"Ketua paguyuban harus lebih proaktif dalam berkomunikasi dan segera mengumpulkan anggotanya," tegasnya. 







"Infokan dan segera tertibkan anggota, jika tidak ada izin harus diurus. Apalagi persoalan limbah ini sudah meresahkan masyarakat," lanjut Wisnu.







Sementara itu, Paguyuban peternak babi di wilayah Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang mengakui ada beberapa anggota yang izin usahanya sudah kedaluwarsa. Selain itu, penampungan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mengalami kebocoran.







Ketua paguyuban peternak babi Kecamatan Getasan, Haryanto mengatakan, dirinya sudah mengimbau anggota agar memerhatikan pengolahan limbah.







"Tapi memang ada sebagian limbah dari peternak yang masuk ke sungai. Mungkin karena ada kebocoran, tapi itu tidak disengaja," jelasnya.







Haryanto mengatakan, di peternakan yang dikelolanya, limbah dialirkan ke lahan warga untuk pupuk rumput pakan ternak.







Selain itu, setidaknya setiap hari ada empat mobil yang mengambil limbah untuk pupuk bibit bunga dan sayuran. 







"Tentu limbah tidak boleh dibuang sembarangan. Apalagi di tempat saya dekat dengan Gua Maria dan perkantoran muspika, mulai dari koramil, polsek, dan sekolah," ungkapnya.







Agar bermanfaat, pengelolaan limbah bahkan dikerjasamakan dengan perangkat dusun. Haryanto mengungkapkan saat ini ada 17 peternak babi dengan minimal populasi 1.000 ekor. Sementara untuk peternakan rakyat, ada 30 orang. (AR)