BISNISREVIEW – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak para petani dan pimpinan daerah untuk memanfaatkan layanan Kredit Usaha Rakyat (KUR) demi meningkatkan kinerja sektor pertanian dari hulu hingga hilir.







Mentan akui, KUR memang benar-benar memiliki bunga rendah setelah diturunkan Presiden Jokowi hingga enam persen.







“Nah, enam persen itu kalau diambil 50 juta per orang maka sangat banyak manfaatnya untuk menjadi modal pertanian," ujarnya.







Syahrul mengatakan itu saat menghadiri pertemuan dengan 5000 petani di Wisma Negara Sulawesi Selatan (Sulsel).







Sebab, dia menegaskan, sistem perkreditan ini sudah diatur pemanfaatannya kepada kepentingan usaha rakyat dengan total anggaran mencapai 50 triliun di Kementerian Pertanian (Kementan).







Syahrul juga mengatakan, program ini sudah dikendalikan dengan aturan main yang cukup ketat karena langsung diawasi para pimpinan daerah.







Walaupun begitu, pemerintah tetap menjamin dan membuka akses perkereditan ini secara luas.







"Kalau ini termanfaatkan dengan baik, maka tidak perlu lagi petani ngambil pinjaman dari mana-mana yang bunganya besar-besar,” katanya.







Tentu saja, lanjutnya, semua penerima KUR masuk dalam kelompok-kelompok tani yang dikendalikan bersama-sama.







Dikesempatan yang sama, Syahrul mengajak pula para penyuluh di Sulsel untuk menghidupkan lembaga Komando Startegi Pembangunan Pertanian (Kostratani) di tiap kecamatan.







Lembaga ini, kata Syahrul, akan menjadi spion utama dalam memantau perkembangan pertanian."Saya berharap Sulawesi Selatan menjadi pionir kostratani karena di sini banyak penyuluhnya,” katanya.







Bahkan, ke depan dia juga meminta Kapolsek, Danramil dan camat harus masuk dan ikut terlibat dalam sistem kostratani ini. “Nanti akan ada Keputusan Presidennya (Kepres)," jelasnya.







Untuk itu, dengan berbagai program yang ada, Syahrul yakin pertanian merupakan sektor startegis yang berorientasi pada pilihan pasti karena membawa semua orang pada posisi untung.







Terlebih, menurutnya, Indonesia adalah negara subur, yang memiliki alam tropis.







"Jadi mengelola pertanian di Indonesia itu tidak ada ruginya. Pertanian itu sesuatu yang pasti. Kalau kau mau kecamatanmu sejahtera, urus pertanianmu dengan baik. Pertanian hanya rugi kalau tidak dikelola dengan baik,” jelasnya.







Sebaliknya, dia menyebut pertanian hanya gagal jika ada bencana alam, hama, atau manusia yang salah dalam mengelolanya.







“Pertanian hanya gagal kalau terjadi korupsi dan penyelewengan," tegasnya. (AR)