BISNISREVIEW.COM - Tingginya nilai impor daripada ekspor, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit tertinggi sebesar US$8,57 miliar sepanjang tahun 2018, sehingga menyebabkan beban bagi devisa negara.







Untuk mengatasi kendala ini, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB), Sahara meminta agar pemerintah fokus pada sektor pertanian. Menurutnya, sektor pertanian disebut sebagai solusi alternatif untuk mengatasi defisit neraca perdagangan Indonesia.







"Setelah kami analisis, ternyata sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar untuk mengatasi defisit. Bahkan saya optimistis sektor ini memberikan kontribusi lebih kepada negara," ujar Sahara  di Jakarta, Kamis (27/2/2020).







Sahara menilai pertanian adalah aset negara yang harus dijaga bersama khususnya karena Indonesia adalah negara besar dengan karakteristik agraris yang kaya akan sumber daya alam seperti rempah.







"Kita bisa lihat dari surplusnya perdagangan perkebunan hingga mencapai US$ 25.073,85 juta para periode 2012-2017. Begitu juga surplus perdagangan dari hasil perikanan cukup menjanjikan," ujarnya.







Menurutnya, perkebunan dan perikanan menjadi dua sub-sektor yang paling berpotensi dalam meningkatkan kinerja ekspor non-migas ke depan. Sebab, keduanya adalah produk pertanian yang telah menjadi kebutuhan utama masyarakat dunia.







Adapun peningkatan kinerja ekspor pertanian dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kualitas logistik, serta hambatan perdagangan maupun non-tarif. Namun, program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) yang digagas oleh Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo disebut dapat mendukung ekspor Tanah Air.







"Namun, kita berharap peningkatan eskpor bisa terus meningkat dengan memperhatikan kualitas produksi pertanian. Sejauh ini, saya optimis karena pemerintah memiliki program jangka panjang Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor)," katanya. (AR)