BISNISREVIEW.COM - Seiring meningkatnya kekhawatiran wabah virus korona dapat membahayakan ekonomi global. Harga emas di pasar spot naik pada akhir perdagangan Jumat (28/2/2020). 







Investor membuang saham, dengan indeks utama Wall Street anjlok untuk sesi keenam beruntun, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mencapai rekor terendah. Akibatnya investor berburu emas sebagai aset safe haven.







“Tidak ada yang tahu dampak (virus korona) nantinya. Ini jelas mengurangi kegiatan ekonomi di banyak bagian dunia," kata Jeffrey Christian, mitra pengelola CPM Group.







Di pasar spot, harga emas naik 0,4 persen menjadi US$ 1.645,59 per ounce pada pukul 14.20 waktu setempat (19.20 GMT).







"Semua orang telah membeli emas karena ekuitas terus dijual," kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities.







Bank-bank sentral global akan lebih cenderung mengakomodasi hal-hal dengan suku bunga yang lebih rendah dan meningkatkan pembelian obligasi untuk meningkatkan likuiditas. Mereka akan melakukan apa pun yang dibutuhkan untuk meminimalkan kerusakan.







"Emas akan mengincar level US$ 1.700 per ounce selama beberapa minggu ke depan karena wabah korona semakin memburuk," kata analis pasar di broker OANDA, Edward Moya.







Di antara logam mulia lainnya, paladium naik 1,4 persen pada US$ 2.828,61 setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.847,50 per ounce di awal sesi.







Platinum turun 0,8 persen menjadi US$ 903,26 , setelah menyentuh level terendah sejak Desember, sementara perak turun 0,7 persen menjadi 17,76 dolar AS per ounce.







Di pasar berjangka, perak untuk pengiriman Mei turun 17,9 sen atau satu persen, menjadi ditutup pada US$ 17,735 per ounce. Platinum pengiriman April turun US$ 9,3 atau 1,02 persen, menjadi US$ 905,5 per ounce.







Infeksi virus korona di seluruh dunia dalam 24 jam terakhir melampaui infeksi di Tiongkok, untuk pertama kalinya. (AR)