JAKARTA - Semakin minimnya lahan pertanian serta tuntutan akan pangan yang berkualitas menjadi salah satu tantangan sektor pertanian di Indonesia. Apalagi saat ini terutama di Pulau Jawa banyak lahan yang beralih fungsi menjadi hunian atau perumahan. Oleh karena itu diperlukan sinergi lebih kuat lagi antara pemerintah, perusahaan penyedia bibit tanaman dan pestisida serta petani untuk meraih swasembada pangan.

Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia, Parveen Kathuria mengatakan, Syngenta sangat senang dapat mendukung pertanian Indonesia selama 17 tahun, dan lebih dari 17 tahun melalui perusahaan legasi. Kami telah menyediakan berbagai inovasi teknologi pertanian guna membantu petani meningkatkan produktivitasnya,” ujarnya di Jakarta, Selasa (21/11).

Menurutnya, Syngenta telah berkontribusi untuk pertanian di Indonesia dalam berbagai aspek.  Diantaranya menyediakan inovasi teknologi pertanian kepada petani, menjangkau petani untuk meningkatkan hasil panen, mendukung peningkatan produksi pertanian termasuk ketahanan pangan dan swasembada serta keberlanjutan dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Syngenta pun kerap memberikan pelatihan kepada ribuan petani untuk meningkatkan produktivitas.

"Saat ini Syngenta telah menyediakan satu hingga tiga teknologi pertanian baru terhadap petani setiap tahun.  Satu teknologi baru memerlukan investasi hingga U$ 300 juta dalam kurun waktu 13 tahun," jelasnya.

Lebih lanjut Parveen mengatakan, saat ini Syngenta telah menjangkau hingga 500.000 petani setiap tahunnya melalui pusat pelatihan petani, klinik pertanian, Farmer Network dan konsultasi petani. Dalam sepuluh tahun terakhir Syngenta telah menjangkau sekitar lima juta petani. Syngenta melalui teknologi perlindungan tanaman dan benih hibrida mendorong petani untuk meningkatkan produktivitasnya hingga 10-20%.

"Di Jawa Timur lebih dari 15.000 petani padi mendapatkan manfaat dari teknologi modern Syngenta yang mampu meningkatkan hasil produksi padi rata-rata dari 5-6 ton/ha menjadi 10 ton/ha. Selain itu, petani jagung di Nusa Tenggara juga dapat meningkatkan produksinya hingga 20% melalui teknologi Syngenta," paparnya.


Dalam empat tahun terakhir, sambung Parveen, Syngenta berkomitmen terhadap bisnis yang berkelanjutan melalui The Good Growth Plan yaitu enam komitmen untuk membantu menghasilkan lebih banyak pangan dengan lebih sedikit sumber daya, dengan tetap menjaga lingkungan dan membantu masyarakat perdesaan.Dengan tujuan dan ambisi yang cukup besar Syngenta menyadari perlunya kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pertanian dan pangan. 

Sementara itu Head of Corporate Affairs Syngenta Indonesia, Midzon Johannis mengatakan, petani kecil tidak hanya menjadi penopang penting ketahanan pangan di tingkat lokal dan nasional saja, tetapi juga berperan penting dalam menjaga suplai kebutuhan pangan global. Sehingga pemberdayaan petani kecil selalu menjadi komitmen dan perhatian Syngenta.(vma)