Harga Minyak Dunia Melambung Tinggi

Industri 17 Januari 2018 | 14:41:23: WIB

JAKARTA - Harga minyak dunia melayang di dekat level tertinggi tiga tahun di 70 dolar AS per barel pada Senin (15/1) . Kenaikan harga minyak ini dipicu pertanda bahwa pemotongan produksi oleh OPEC dan Rusia memperketat pasokan. Namun para analis memperingatkan soal melonjaknya produksi Amerika Serikat. Patokan internasional, minyak mentah Brent North Sea, diperdagangkan tiga sen lebih rendah di 69,84 dolar AS per barel pada pukul 15.22 GMT ( atau Senin 22.22 WIB), setelah naik di atas 70 dolar AS di awal sesi.

Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), naik 22 sen menjadi 64,52 dolar AS per barel. Perdagangan relatif lambat karena libur nasional di Amerika Serikat. Sebuah kesepakatan pemotongan produksi antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen-produsen lainnya telah membantu mengangkat harga minyak secara kuat, dengan kedua acuan kontrak berjangka pada pekan lalu yang mencapai tingkat yang belum terlihat sejak Desember 2014.

Meningkatnya tanda-tanda pengetatan pasar setelah tiga tahun mengalami kelebihan pasokan telah memperkuat kepercayaan di kalangan para pedagang dan analis bahwa harga-harga dapat dipertahankan di dekat level saat ini. Bank of America Merrill Lynch pada Senin menaikkan perkiraan harga Brent 2018 menjadi 64 dolar AS per barel dari 56 dolar AS, memproyeksikan defisit 430 ribu barel per hari (bpd) dalam produksi minyak dibandingkan dengan permintaan tahun ini. Faktor lain, termasuk risiko politik, juga telah mendorong harga minyak mentah.

"Fundamental-fundamental yang lebih ketat adalah pendorong utama reli harga, namun risiko geopolitik dan pergerakan mata uang seiring dengan uang spekulatif secara bersamaan telah memperburuk pergerakan tersebut," ujar analis bank AS JPMorgan mengatakan dalam sebuah catatan. Namun, sejumlah analis telah memperingatkan bahwa reli 13 persen sejak awal tahun ini dalam jangka pendek dapat mereda, karena pemeliharaan kilang global dan meningkatnya produksi Amerika Utara.

Perusahaan-perusahaan energi AS menambahkan 10 rig minyak dalam pekan yang berakhir 12 Januari, sehingga total menjadi 752 rig, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes pada Jumat (12/1). Itu adalah kenaikan terbesar sejak Juni 2017. Di Kanada, perusahaan-perusahaan energi hampir melipatgandakan jumlah rig pengeboran minyak mereka minggu lalu menjadi 185 rig, tingkat tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Konsultan JBC Energy yang berbasis di Wina memperkirakan produksi Amerika Serikat akan tumbuh 600 ribu barel per hari pada kuartal pertama 2018 dibandingkan setahun sebelumnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, akan terus memantau perkembangan harga minyak yang bisa mempengaruhi APBN 2018. Namun dia menekan kan untuk saat ini belum akan menyiapkan perubahan untuk APBN karena 2018 saja baru berjalan sekitar 2 minggu sehingga akan menjalankan APBN saat ini yang sudah dirancang dengan penuh perhitungan.

"APBN itu adalah suatu undang-undang yang khusus karena dia menyangkut suatu angka-angka yang bisa merupakan suatu komitmen yang sudah diundangkan seperti Belanja Negara. Jadi kapan, berapa belanja, untuk apa, di unit mana atau di Kementerian apa, di daerah mana itu sudah ada di dalam undang-undang APBN," ungkap Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengakui dengan kenaikan harga minyak ini makan akan mengubah dari sisi belanja negara yang ada di APBN sehingga jumlahnya itu kemudian berubah karena situasi berubah. "Memang nilainya akan berubah karena harga minyak, nilai tukar yang bisa mempengaruhi lokasi dari belanja negara yang posnya sangat berpengaruh," jelasnya.

Namun, dengan kondisi seperti ini dia dan pihaknya sudah menyiapkan suatu kebijakan yang harus terus menjaga APBN berjalan baik setiap harinya. Karena sisi penerimaan itu adalah estimasi proyeksi dan estimasi sementara sisi belanja itu adalah komitmen dan oleh karena itu pemerintah akan selalu mengelola APBN dengan baik tapi bukan dengan mengubahnya setiap saat ada kondisi berubah.

"Tapi tidak berarti setiap perubahan kemudian kita berpikir APBN-P, karena kalau kita selalu berfikir APBN-Perubahan berarti setiap hari ada saja perubahan. Jadi kita akan tetap mengelola APBN yang penting tujuannya adalah agar APBN itu selalu terjaga dari sisi kredibilitasnya. Artinya kita selalu bisa menjelaskan kepada publik mengapa situasinya seperti ini menyebabkan kondisi perubahan seperti apa di dalam APBN dan bagaimana membiayainya," jelasnya.(vma)