JAKARTA - Menikmati minum kopi di pagi hari tentu menjadi hal yang biasa. Tetapi kalau minum kopi di ketinggian 15.000 feet di dalam pesawat C-130 Hercules tentunya bukan biasa lagi. Apalagi ngopinya bersama Panglima TNI, tentu menjadi istimewa.

Peristiwa langka tersebut dialami oleh para pemimpin redaksi (Pemred) dan jurnalis media cetak, online dan elektronik dalam penerbangan dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Lanud Adi Sucipto Yogyakarta, di akhir tahun lalu (10/12/2017).

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto S.IP, bersama TNI AU dan para jurnalis, minum kopi bareng di udara dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules. Kopi yang disajikan pun istimewa, karena produk dan olahan TNI AU berlabel Baringga (Baret Jingga) dengan barista yang sudah terlatih dari Wanita TNI AU (Wara).

Berbicara tentang Kopi Baringga, tentu masyarakat cukup awam dengan label tersebut. Jurnalis pernah menikmati sensasi rasa dan aroma kopi Baringga ketika Pia Ardya Garini merayakan HUT ke-61 dengan menggelar Expo Indonesia Jaya di Mal Casablanca, pekan kedua November 2017. Saat mencicipi, aroma kopi sangat kuat tetapi nikmat.  

Label Kopi Baringga bisa dibilang mulai diketahui masyarakat berkat “campur tangan” Panglima TNI saat ngopi di angkasa bareng pemred dan jurnalis. Momen tepat ini turut mengangkat label Kopi Baringga dikenal masyarakat secara luas lantaran pemberitaan melalui media elektronik, cetak dan online secara berkala.

Saat berkunjung ke Aspotdirga di Gedung Aldiron, belum lama ini, para jurnalis dari proaksi.com, buanaheadline.com, bisnisreview.com, bisnismetro.co.id, jurnaljakarta.com, dan akuratnews.com, mendapat informasi tentang awal mula produksi Kopi Baringga dari Paban VI Wiltasdirga, Kolonel Pas. Budi Sumarsono.

Kolenel Budi menuturkan, perkebunan tanaman Kopi Baringga terletak di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung, di atas areal seluas 30 hektar. Namun secara rinci, Budi tidak mengetahui berapa ton dihasilkan dari perkebunan kopi itu.

Awal mula lahan tersebut, dijelaskannya, merupakan tempat latihan Paskhas TNI AU. Sedangkan pemilik lahan adalah Perhutani. Setelah lahan tersebut tidak lagi dipakai sebagai tempat latihan, kemudian TNI AU menggarap lahan itu untuk perkebunan kopi karena memang berada ditempat ketinggian. Lokasinya memang cocok untuk budidaya kopi.

Tetapi tentunya atas persetujuan pemilik lahan, yakni Perhutani. Dengan syarat, tidak menebang pepohonan di sekitar lahan. Bibit kopi pun ditanam disekitar pepohonan. TNI AU lalu menggandeng masyarakat setempat untuk menggarap perkebunan kopi.

“Kami hanya memfasilitasi saja. Sedangkan masyarakat setempat yang menggarap perkebunan kopi. Dari hasil panen kopi itu masyarakat mendapat penghasilan,” ujar Kolonel Budi.

Pemberdayaan masyarakat setempat oleh TNI AU patut diacungi jempol. Masyarakat mempunyai usaha baru, menjadi petani kopi. Dari hasil panen, masyarakat dapat menghasilkan income.

Hasil dari perkebunan lalu diolah dan menjadi Kopi Baringga. Pemasaran Kopi Baringga baru hanya satu tempat di sebuah café, kalau tidak salah, di bilangan Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung.             

Ditanya mengapa tidak mengembangkan lokasi perkebunan dan pemasarannya, Kolonel Budi menjelaskan, bila membuka lokasi perkebunan baru tentunya rasa akan berbeda. Sebab, struktur tanah pun mempengaruhi rasa kopi. Namun demikian, direncanakan luas perkebunan akan ditambah.

Tentang pemasaran, kata Kolonel Budi, kami ingin seperti Starbuck, yang hanya khusus café kopi dengan produk Kopi Baringga.

Hasil perkebunan kopi dengan memberdayakan masyarakat setempat, ini merupakan salah satu bentuk tugas TNI AU turut mendukung pemerintah pada program ketahanan pangan dalam pembinaan teritorial.(arn)
Editor: Hendy