JAKARTA - Harga minyak berbalik menguat, Selasa pagi, terangkat ketegangan di Timur Tengah, meskipun meningkatnya output di Amerika Serikat dan kejatuhan pasar saham membatasi kenaikan lebih lanjut.

Patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD62,31 per barel pada pukul 01.28 GMT, naik 25 sen, atau sekitar 0,4 persen, dari penutupan sebelumnya, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (20/3).

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent--patokan internasional - bertambah 21 sen atau sekitar 0,3 persen menjadi USD66,26 per barel.

Para trader menyoroti kekhawatiran di Timur Tengah, di mana Amerika Serikat dapat menerapkan kembali sanksi terhadap Iran, serta ketegangan antara Arab Saudi dan Iran.
Kekhawatiran mengenai produksi minyak mentah Venezuela juga turut mendukung pasar minyak.

Badan Energi Internasional, pekan lalu, mengatakan Venezuela, di mana krisis ekonomi mengurangi produksi minyak negara itu hampir setengahnya sejak awal 2005 menjadi di bawah 2 juta bph, "sangat rentan terhadap penurunan yang dipercepat", dan gangguan semacam itu bisa mendorong pasar global ke dalam defisit.

Kejatuhan pasar saham global membantu membatasi penguatan. Pasar berada di bawah tekanan dari kekhawatiran kemungkinan perang dagang antara Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya, dan juga kekhawatiran regulasi yang lebih ketat setelah Facebook mendapat kecaman menyusul skandal pelanggaran data jutaan penggunanya.
Juga membebani pasar minyak adalah melonjaknya produksi Amerika, yang meningkat lebih dari seperlima sejak pertengahan 2016, menjadi 10,38 juta barel per hari (bph), mendorongnya melewati eksportir utama Arab Saudi.
Hanya Rusia yang memproduksi lebih banyak, sekitar 11 juta bph, meski output Amerika diperkirakan menyusul Rusia juga, akhir tahun ini.

Peningkatan output Amerika, serta kenaikan produksi di Kanada dan Brasil, merongrong upaya Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ), yang didominasi negara-negara Timur Tengah, untuk membatasi pasokan dan mendongkrak harga.
Banyak analis memperkirakan pasar minyak global akan beralih dari undersupply pada 2017 dan awal tahun ini menjadi kelebihan pasokan (oversupply) di 2018.(ipot/red)