JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah di posisi Rp14.175 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Senin (21/5). Posisi rupiah ini melemah 0,13 persen atau 19 poin dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (18/5) di angka Rp14.156 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada memproyeksi rupiah akan kembali melanjutkan pelemahan pada hari ini karena besarnya sentimen global terhadap rupiah.

Dari global, pengaruh perkiraan imbal hasil obligasi AS (US Treasury) yang cenderung meningkat dipastikan akan membuat dolar AS kian perkasa dan rupiah tertahan di zona lemah. "Faktor ini yang menahan dana asing masuk ke pasar berkembang, termasuk Indonesia," ujarnya.

Hal ini membuat sentimen domestik dari Bank Indonesia (BI) yang telah mengerek suku bunga acuannya (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebanyak 25 basis poin menjadi 4,5 persen menjadi tak ampuh dalam menguatkan rupiah.

Begitu pula dengan sentimen domestik yang dibangun oleh pemerintah, melalui kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 dengan defisit yang masih di bawah target. Namun, sentimen tersebut lagi-lagi diperkirakan belum bisa menguatkan rupiah.

"Masih dominannya penguatan dolar membuat laju rupiah kembali kehilangan momen untuk terapresiasi," katanya.

Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang negara di kawasan Asia juga melemah pada pembukaan perdagangan hari ini. Won Korea Selatan melemah 0,34 persen, yen Jepang minus 0,21 persen, peso Filipina minus 0,11 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,07 persen.

Hanya renmimbi China dan baht Thailand yang berhasil dibuka menguat masing-masing 0,02 persen dan 0,07 persen dari dolar AS.

Sementara mata uang negara maju bergerak variasi. Euro Eropa melemah 0,13 persen dan pound sterling Inggris minus 0,05 persen. Namun, dolar Kanada menguat 0,1 persen, dolar Australia 0,24 persen dan rubel Rusia 0,07 persen.(vls)