JAKARTA - Maskapai Penerbangan PT Garuda Indonesia pada tanggal 30 Mei 2018 resmi membuka sebuah layanan baru untuk produk sub kelas "Economy Basic". Bertempat di kawasan Jakarta, produk baru besutan Garuda Indonesia tersebut menawarkan harga terjangkau, tetapi dengan layanan yang optimal khas bintang lima.

Layanan sub kelas ekonomi tersebut rencanaya akan diberlakukan khusus rute penerbangan ATR72-600 dan Bombardir CRJ 1000 tujuan untuk beberapa destinasi. Hal itu diutarakan langsung oleh Direktur Niaga Domestik Garuda Indonesia, Nina Sulistyowati saat bertemu media.

Menurut Nina, sudah saatnya Garuda Indonesia mengakomodir demand market kelas ekonomi. "Ini sejalan dengan potensi market yang khususnya untuk rute penerbangan shot haul ATR 72-600 dan Bombardir CRJ 100," katanya di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Menanggapi adanya rute penerbangan baru di Garuda Indonesia, Ketua Umum Ikatan Mantan Awak Kabin Garuda Indonesia (IMAKGI) Santo Kadarusman merespon positif langkah maskapai penerbangan plat merah tersebut untuk melakukan inovasi dan menghindari potensi kerugian dengan membuka layanan sub kelas ekonomi.

Lebih jauh Santo menambahkan bahwa terbuka kesempatan dengan adanya target market penumpang khususnya ke luar Jawa yang semakin meningkat. Karena itu perlu adanya langkah mengakomodasi kesempatan tersebut termasuk membuka sub kelas ekonomi.

"Ini baru namanya inovasi dan kreatif sehubungan adanya kesempatan dan peluang dengan adanya target market tujuan Medan, Palembang, Balikpapan Pontianak dan Makassar," ujar Santo.

Sementara itu, adanya rencana aksi mogok kerja karyawan Garuda Indonesia, Santo menanggapi kalau itu tentunya adanya ketidakpuasan terutama menyangkut masalah kesejahteraan didalamnya. Tentu sangat tidak mungkin, bila karyawan Garuda Indonesia berencana melakukan aksi mogok massal melibatkan hampir 10.000 karyawan maskapai penerbangan plat merah tersebut bila Jika tidak ada penyebab yang membuat para karyawan terpaksa melakukan aksi mogok kerja.

"Pastinya, ada sebab dan ada akibat. Tentunya ada hal-hal ketidakpuasan yang memicu hingga crew dan karyawan harus berencana melakukan aksi seperti itu," jelas Santo Kadarusman di Jakarta pada Sabtu (2/6/2018).

Santo menjelaskan, sangat sah-sah saja jika karyawan garuda yang di gawangi Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) untuk melakukan kasi demi menyuarakan aspirasi dan menuntut hak kesejahteraan.

Meski demikian, Santo berharap agar para karyawan Garuda bisa lebih bijak dalam menyampaikan aspirasinya. Sebab jangan sampai dalam menuntut hak dan menyampaikan aspirasi tersebut tidak merugikan masyarakat luas. Khususnya penunjang pesawat.

"Saya rasa-sah sah saja, namun alangkah baiknya andai penyampaian aspirasi, tuntutan ataupun harapan tidak harus merugikan masyarakat luas, seperti dengan aksi mogok tersebut. Tentunya bukan sebuah permasalahan, masih bisa di musyawarahkan," pungkasnya.

Diketahui, Asosiasi Pilot Garuda(APG) 1.300-an pilot dan serikat karyawan Garuda Indonesia yang hampir mencapai 5.000 orang yang akan melakukan mogok kerja di puncak arus mudik 1439 Hijriah.

Editor : Arini