JAKARTA - Pasca kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan bi7drr sebesar 50 bps minggu lalu rupiah terus bergejolak bahkan kemarin kembali menembus 14.400. Banyak yg mempertanyakan apakah kebijakan BI tidak efektif?


Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah Radjalam, mengatakan ada dua faktor yg menyebabkan rupiah tetap bergejolak meskipun BI sudah menaikkan suku bunga. Pertama, kebijakan BI justru efeknya negative karena kenaikan suku bunga acuan terlalu besa di luar ekspektasi pasar. Kenaikan suku bunga acuan BI seharusnya cukup 25 bps dan ditujukan bukan utk menguatkan rupiah dgn segera tapi lebih utk mencegah pelemahan rupiah lebih besar. Diluar dugaan BI menaikkan 50 bps. Bisa dibaca BI terburu2 dan tidak konfiden yang kemudian menyebabkan pasar juga tidak konfiden.

"Faktor kedua, rupiah bergejolak karena masih adanya kekhawatiran pasar terhadap defisit neraca perdagangan dan juga ketegangan perdagangan global yg bisa berujung ke perang dagang," jelasnya dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (3/6/2018)

Menimbang hal tersebut diatas, BI hendaknya berhati2 dalam menetapkan kebijakan suku bunga. Kebijakan BI akan efektif apabila dapat dipahami oleh pasar. Kebijakan yg terburu2, ingin mendapatkan hasil secepatnya, dalam hal ini rupiah segera menguat kembali ke level fundamental, bisa tidak terbaca oleh pasar dan membingungkan. Hasilnya bisa jadi negatif.

Gejolak nilai tukar saat ini hendaknya menjadi pengingat bahwa struktur perekonomian kita masih lemah. Kita selalu bicara bahwa fundamental kita kuat dengan melihat faktor2 yg memang kuat. Tapi kita melupakan satu faktor yg lemah, yang selalu menjadi permasalahan saat terjadi shock global, yaitu current account defisit. Saatnya BI dan pemerintah memikirkan solusi yg lebih permanen mengatasi kelemahan ini. Mengurangi defisit current account setidaknya dengan segera mengatasi trade balance defisit.(vls)