JAKARTA - Memperingati 10 tahun tercatatnya saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Indika Energy mendapat kehormatan untuk melakukan pembukaan perdagangan saham di BEI yang dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 2018 oleh Agus Lasmono, Komisaris Utama Indika Energy dan Arsjad Rasjid, Direktur Utama Indika Energy, serta disaksikan oleh Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi beserta jajaran manajemen Grup Indika Energy dan BEI. Perayaan ini juga menandai kontribusi Grup Indika Energy selama 45 tahun
terhadap pembangunan Indonesia.

“Sebuah kebanggaan bagi Indika Energy dapat membuka perdagangan saham hari ini. Indika Energy, yang sudah berdiri sejak tahun 2000 dan melakukan penawaran saham perdana pada tahun 2008, telah tumbuh menjadi Grup perusahaan energi yang berkontribusi selama lebih dari 45 tahun terhadap pembangunan Indonesia, termasuk proyek-proyek strategis infrastruktur dan migas berskala nasional,” tutur Arsjad.

Indika Energy juga mencatat perkembangan usaha yang signifikan sejak 10 tahun yang lalu tercatat sebagai perusahaan terbuka. Pada penawaran perdana 11 Juni 2008, saham Indika Energy tercatat sebesar Rp 2.950 per lembarnya. Pernah mengalami titik terendah yaitu Rp 106 pada 12 Januari 2016 karena dinamika industri batubara, harga saham Indika Energy berhasil meningkat kembali dan tercatat sebesar Rp 3.230 dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 16,8 triliun pada penutupan perdagangan 3 Juli 2018.

Selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan bisnis baik secara organik dan non organik, telah menjadikan Indika Energy sebuah perusahaan dengan skala yang jauh lebih besar. Selaras dengan bertambahnya anak perusahaan dan cakupan bisnis, karyawan Grup Indika Energy pun meningkat pesat yakni dari 1.200 orang pada tahun 2008, kini mencapai lebih dari 8.000 orang atau meningkat lebih dari 6 kali lipat.

Kontribusi Indika Energy dalam berbagai proyek infrastruktur juga telah tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Anak perusahaan Indika Energy misalnya Petrosea telah mengerjakan proyek di industri pertambangan dan migas, sementara Tripatra ikut andil dalam membangun berbagai fasilitas hulu (upstream) migas dengan skala yang sangat besar di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah fasilitas hulu migas di Cepu yang dimiliki Pertamina dan ExxonMobil yang menghasilkan tidak kurang dari 25% seluruh kapasitas produksi minyak nasional, juga kompleks Jangkrik yaitu Unit Produksi Terapung lapangan gas laut dalam terbesar di Indonesia.

Sementara Kideco Jaya Agung, perusahaan tambang batubara milik Indika Energy adalah salah satu yang paling besar dan paling efisien di Indonesia. Kideco dengan capaian produksi 32 juta ton pada tahun 2017, memasok batubara bersih dan ramah lingkungan untuk pembangkit listrik tenaga uap yang menjadi kunci penggerak roda ekonomi masyarakat Indonesia. Cirebon Electric Power, perusahaan pembangkit listrik yang sebagian sahamnya dimiliki Indika Energy, bahkan didukung teknologi supercritical yang ramah lingkungandengan tingkat efisiensi tinggi. Operasional Grup Indika Energy juga didukung Mitrabahtera Segara Sejati, sebuah perusahaan transportasi dan logistik laut untuk barang curah dan sumber daya alam.


Pencapaian Grup Indika Energy untuk Indonesia, bukanlah bentuk kebanggaan kami semata, namun keinginan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Ke depannya, Indika Energy akan terus menjajaki peluang untuk melakukan diversifikasi usaha dan memanfaatkan keunggulan operasional kami di sektor energi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia. Misalnya melalui investasi kami untuk membangun terminal penyimpanan produk bahan bakar di Kariangau, Kalimantan Timur,” tambah Arsjad.(arn)