Manajemen PT Jiwasraya (Persero) kembali menjelaskan masalah tekanan likuiditas yang dihadapi asuransi plat merah ini. Masalah ini timbul karena adanya mismatch antara waktu investasi dengan waktu pencairan polis.

Direktur utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko mengatakan produk yang bermasalah ada produk unit link JS Saving Plan. Produk ini memilik model bisnis yang mengarah pada produk perbankan seperti deposito ketimbang asuransi pada umumnya.

Produk JS Saving Plan memiliki jangka waktu lima tahun tetapi bisa dicairkan setiap tahun. Produk ini mirip seperti deposito yang bisa dicairkan kapanpun.

Padahal biasanya produk asuransi unit link memiliki masa tunggu (holding period) pencairan investasi. Misalnya, imbal hasil investasi bisa dicairkan tahun ke tujuh pembayaran polis. Sementara proteksi asuransi bisa didapatkan hingga berusia 56 tahun.

"Ada mismatch. Jadi kita kena risiko market [dari] turunnya harga, sama liquidity risk karena [barang investasi] tidak likuid tidak bisa dilikuidasi. Dan itu dipicu oleh mismatch dalam tenor investasi," kata Hexana seperti dikutip dari detikFinance, Senin (7/1/2019).

Hexana menjelaskan masalah ini dihadapi perusahaan terutama empat tahun terakhir 2013-2014. Di saat yang sama produk asuransi berbalut investasi ini memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari produk investasi lainnya, kala itu imbal hasilnya dipatok hingga 10%. Produk ini dirilis untuk memenuhi likuiditas Jiwasraya, namun sayangnya andil produk ini ke Jiwasraya sangat kecil karena adanya sifat jatuh tempo.

"Ini sama ke balance sheet (laporan neraca) sangat besar tetapi ke profitability sangat kecil. Jadi kalau saya bicara capital allocation (pengalokasian modal) ngapain beli sesuatu yang gede tetapi tidak menghasilkan," terang Hexana.

Informasi saja, pada 1 Oktober 2018 Jiwasraya mengumumkan penundaan pembayaran polis jatuh tempo sebesar Rp 802 miliar dengan alasan Jiwasraya hadapi tekanan likuiditas.

Manajemen mengatakan penunggakan ini dikarenakan pasar modal yang bergejolak. Maklum produk tersebut banyak menempatkan investasi di pasar modal. Produk ini banyak dijual melalui perbankan atau kanal distribusi bancassurance.

Manajemen mencatat ada sekitar 17.000 nasabah yang menunggu pembayaran polis produk JS Saving. Manajemen menargetkan pembayaran polis jatuh tempo akhir 2019.