BISNISREVIEW.COM, JEMBER -- Benar kami kemarin demo di kantor DPRD Jember karena harga gabah anjlok, tapi yang kami bakar itu jerami padi 2 rumpun (ikat), bukan padi karena kami sayang tanaman padi kami yg sudah ditanam 3 bulan lebih dengan susah payah







Demikian disampaikan oleh Ketua Gapoktan Candi Jati yang juga Ketua HKTI Jember, Jumantoro saat acara panen padi di Desa Karangduren, Kec Balung, Jember pada Jum'at (28/03).







Jawa Timur sebagai lumbung padi Nasional saat ini sedang mengalami puncak panen, tidak terkecuali wilayah Jember yang merupakan sentra padi Jawa Timur.







Melimpahnya panen di Kabupaten tersebut ternyata membuat harga gabah turun drastis mendekati HPP dan ini merupakan tantangan serius Kementan untuk menjaga harga di tingkat petani.







Pak Ali Mustoha, Ketua Gapoktan Mutiara Tani menyampaikan bahwa penurunan harga di wilayahnya bukan semata karena melimpahnya gabah, namun lantaran kadar air gabah yang tinggi dan jenis varietas padi yang kurang diminati konsumen.







"Jadi kemarin banyak hujan, padi banyak ambruk dan terendam sehingga basah, karena basah maka kadar air tinggi. selain itu kan kita tanam padi Logawa karena hasilnya bagus dan tahan hama, tetapi nasi nya pera, sehingga kurang diminati," ujar Ali.







Pak Jumantorro menambahkan bahwa harga gabah saat ini sudah kembali naik, curah hujan mulai berkurang.







"Kemarin harga gabah Rp. 2.000-2.600/kg, tapi saat ini sudah mencapai Rp.3.000-3.500/kg. Bisa stabil di harga 3.500 kami sudah senang," imbuh Jumantoro.







Melihat harga yang sudah dibawah HPP, BKP Kementan yang diwakili oleh Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Andriko Noto Susanto mendukung langkah Bulog dan Mitra (Perpadi dan Gapoktan)  untuk segera serap gabah tersebut.







"Bapak Menteri menginstruksikan harga GKP di petani tidak boleh dibawah Rp.4.070 pada kadar air 25% dan hampa 10%. Jika ada gabah yang dibawah HPP segera serap. Saya melihat disini Harga sudah masuk, kualitas juga sudah diuji , tunggu apalagi segera serap. masalah varietas, saya sampaikan ke petani bahwa tidak ada persyaratan jenis varietas dalam penyerapan gabah oleh Bulog. intinya kalau harga dan kualitas masuk langsung dibeli," jelas Andriko.







Senada dengan hal tersebut, Kepala Bulog Subdivre Jember, Jamaludin menyampaikan kesiapannya membeli gabah petani.







"Pada hari ini, disaksikan oleh Tim Kementerian Pertanian, HKTI, KTNA, dan Perpadi, kami melakukan pembelian awal gabah oleh bulog sebesar 20 ton GKP dan akan terus bertambah. Kalau tadi kata pak Ali harga gabah 3.500, sekarang Bulog akan beli dengan harga 4.070 sesuau HPP, Fleksibilitas," jelas Jamaludin







Mendengar arahan Andriko dan Jawaban Bulog, Petani yang hadir merasa bersyukur dan senang atas harga yang diterima.







"Terimakasih kami hari ini merasa senang sekali gabah dibeli dengan harga sesuai HPP, kalau masalah kualitas kadar air dan hampa nanti gampang kita bisa sesuaikan kualitasnya," jelas Ali.







Bukan hanya itu saja, Ketua Perpadi Jember, Johannes Suwarno yang hadir dalam panen tersebut juga menyatakan siap membeli gabah petani.







"Kami dari Perpadi Jember siap membeli gabah. Anggota kami ada sekitar 25 orang dan melihat harga gabah yang sudah dibawah HPP maka kami akan segera lakukan pembelian," singkat Johannes.







Dengan hadirnya BKP Kementan dan Bulog, pemerintah telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga harga gabah di tingkat petani dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dan mewujudkan ketahanan pangan nasional.(arn)