BISNISREVIEW.COM, JAKARTA -- Gas bumi untuk rumah tangga boleh saja lebih murah, tapi negeri ini masih bergantung pada gas elpiji yang masih haus subsidi. Lihat saja nilai penjualan gas tabung Pertamina yang melonjak sedangkan gas alam anjlok.

Sukses mencaplok PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) yang khittahnya lebih fokus mengembangkan gas pipa, Pertamina justru mencatatkan lonjakan penjualan gas LPG (liquefied petroleum gas) dalam laporan keuangannya pada tahun lalu. 



LPG adalah gas propana yang diproduksi dengan komposisi gas alam dan minyak mentah dengan rasio 60:40. Subsidi elpiji di Indonesia mengikuti kenaikan harga minyak. Di sisi lain, LNG (liquefied natural gas) adalah gas metana yang 100% diproses dari gas alam. Indonesia adalah produsen terbesar ketujuh dunia untuk LNG.



Saat ini konsumsi gas untuk bahan bakar masyarakat masih bergantung pada LPG yang memaksa pemerintah untuk mngimpor dan memberikan subsidi. Tiap tahunnya, impor LPG Indonesia mencapai US$5 miliar atau setara dengan Rp 71 triliun. Pemerintah tahun lalu mengucurkan subsidi senilai Rp 64 triliun.


Selama ini, Pertamina memang menjalankan bisnis penjualan gas pipa, transportasi gas, regasifikasi, dan penjualan compressed natural gas (CNG) untuk transportasi. Selain itu, Pertamina juga menjadi penjual gas pipa dan LNG bagian negara. Untuk gas pipa, Pertamina melayani pelanggan industri, pembangkit listrik (PLN) maupun rumah tangga (gas kota). 

Dengan bergabungnya PGN ke Pertamina, infrastruktur PGN dan Pertagas pun diintegrasikan. Akibatnya di atas kertas, bisnis hilir gas domestik melesat dengan kenaikan volume penjualan gas sebesar 36% pada 2018 sedangkan volume transportasi naik 55% dibandingkan tahun 2017. 

Namun, kenaikan itu ternyata tidak sejalan dengan angka penjualan yang dibukukan. Perusahaan holding BUMN energi ini mencatat penjualan domestik LPG (dan petrokimia, pelumas dan lainnya) melesat 90% menjadi US$8,2 miliar. 

Sebaliknya penjualan gas alam (LNG) justru anjlok 41,5% menjadi US$3,2 miliar. Padahal, harga LNG dunia pada tahun lalu menguat dan sempat menyentuh level US$5 per mMbtu.


Semenjak mengakuisisi PGN dan menggabungkannya dengan Pertagas, perusahaan holdingBUMN energi ini semakin yakin menjalankan rencana jangka panjangnya salah satunya mendongkrak produksi elpiji dari fasilitas produksi gas dalam negeri.



"Bisnis gas ke depan akan fokus pada pemenuhan kebutuhan kilang Pertamina serta penugasan penjualan gas bagian negara baik gas pipa maupun LNG," tulis manajemen Pertamina dalam laporan tahunannya.

Indonesia saat ini merupakan eksportir gas alam terbesar kelima di dunia, dengan memiliki cadangan gas tebesar ke-13. Tidak heran, harga jualnya bisa lebih murah dari LPG yang masih harus impor untuk komponen minyaknya.

Pada Maret lalu, Kementerian ESDM merilis harga jual gas konsumen rumah tangga pada jaringan pipa distribusi senilai maksimal Rp 4.250 per meter kubik, atau lebih murah ketimbang harga pasar gas LPG 3 kg yang berkisar Rp 5.000 hingga Rp 6.700 per meter kubik.

Namun sayangnya, suplai yang melimpah dan murah ini belum dinikmati masyarakat luas menyusul minimnya pembangunan jaringan gas ke kota-kota besar di Indonesia. Ini adalah tugas PGN yang sekarang di bawah Pertamina mendapat mandat untuk menggarap bisnis gas domestik.

Akankah elpiji yang haus subsidi ini menjadi prioritas pengembangan Pertamina sebagai holding BUMN energi, ataukah gas pipa yang akan dgenjot? Kita tunggu saja. Sejauh ini, berdasarkan nilai penjualan terlihat bahwa bisnis gas elpiji lebih menarik bagi Pertamina.(vita)