Bisnisreview.com -- Perusahaan Energy terintregasi  PT Indika Energy Tbk (INDY), anggota indeks Kompas100 ini) dalam laporan keuangannya tampak kurang memuaskan hingga kuartal III-2019. Hal ini terlihat dari tingkat pendapatannya yang turun 4,6% (yoy) menjadi US$ 2,08 miliar per akhir September lalu. Di saat yang sama, perusahaan juga menderita rugi bersih sebesar US$ 8,60 juta.


 


Azis Armand selaku Managing Director dan CEO INDY mengatakan, tekanan yang dialami harga jual batubara secara berkelanjutan sepanjang tahun 2019 cukup mempengaruhi kinerja perusahaan.







Ini terbukti dari turunnya pendapatan dari Kideco Jaya Agung sebesar 15% (yoy) di kuartal tiga lalu menjadi US$ 1,19 miliar. Kideco merupakan anak usaha INDY di bisnis produsen batubara sekaligus penyumbang terbesar pendapatan perusahaan secara keseluruhan.







Meski demikian, INDY masih sangat aktif dalam memproduksi batubara. Hingga kuartal tiga berakhir, produksi batubara INDY mencapai 25,7 juta ton. Di periode yang sama di tahun lalu, produksi batubara INDY berada di level 25,4 juta.







"Kami masih menargetkan produksi batubara sebesar 34 juta ton di akhir tahun nanti atau sama dengan capaian di tahun lalu," papar Azis dalam siaran pers, Kamis (31/10/2019).







Aziz menilai, masih tingginya produksi batubara disebabkan kondisi udara dan curah hujan di wilayah tambang INDY Relatif stabil sepanjang l tahun ini.







INDY juga terhitung beruntung karena tidak semua segmen usahanya mengalami penurunan pendapatan. Ambil contoh, segmen usaha jasa transportasi dan logistik laut yang pendapatannya meningkat 16,9% (yoy) menjadi US$ 60,60 juta di kuartal III-2019. Segmen ini dijalankan oleh anak usaha INDY, yakni Mitra Bahtera Segara Sejati (MBSS).







"Pendapatan MBSS masih positif karena meningkatnya volume batubara yang diangkut. Ini sejalan dengan tetap tingginya produksi batubara," ujar dia.







Meski tidak merinci proyeksi pendapatan dan laba di akhir tahun, Azis optimistis kinerja INDY akan membaik di sisa tahun ini. Sebab, pada dasarnya permintaan batubara secara global masih terbilang stabil. 







Utamanya dari China yang dipandang sebagai pasar terbesar untuk ekspor batubara. Pihak INDY juga akan meningkatkan efisiensi agar produksi batubara yang tinggi dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.(red)