Bisnisreview.com, Bogor – Universitas Pertahanan (Unhan) menggelar Seminar Nasional dan Call For Papers dengan Tema “Kesadaran Bela Negara dalam rangka mencegah Disintegrasi Bangsa di Era Revolusi Industri 4.0”. bertempat di Gd. Auditorium Kampus Bela Negara Unhan Kawasan IPSC Sentul-Bogor Jawa Barat. Rabu, (6/11).







Acara Seminar Nasional di buka langsung oleh Rektor Unhan Letjen TNI Dr. Tri Legionosuko, S.IP., M.A.P. Selaku Keynote Speaker Menhan RI yang diwakili oleh Dirjen Pothan Kemhan Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si, dan memhadirkan pembicara Prof. Dr. Syarifudin Tippe, S.IP., M.Si. Bertindak selaku reviewer antara lain Guru Besar Dept. Teknik Sipil dan Lingkungan IPB Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc, Dekan Sekolah Bisnis IPB Prof. Dr. Ir. Noer Azzam Achsani, MS, serta Kalafiau Roostyan Effendie Kolonel Kes Dr. Yuli Subiakto, Apt., M.Si, serta 8 peserta pemapar Call For Papers yang dibagi 2 sesi.


 


Pemapar sesi pertama Tatan Kustana diwakilkan oleh Yuniati Fransisca dari Universitas Nurtanio Bandung, Pebria Dheni Purnasari, dari  STIM Shanti Bhuana, Muhammad Yusrizal Adi Syaputra diwakilkan oleh Dr. Rizkan Zulyadi  dari  Universitas Medan, Rudi Natamiharja diwakilkan oleh Kisti Artiasha dari Universitas Lampung. 







Sesi kedua yaitu Mohamad Mirwan dari UPN ‘V’ Jatim, Sri Suneki dari Universitas PGRI Semarang, Syaiful Anwar dari Universitas Pertahanan, Arief Budiarto dari Universitas Jenderal Ahmad Yani. 







Dalam sambutannya, Rektor Unhan mengatakan kegiatan seminar dilaksanakan untuk menggali pemikiran kritis dari para dosen perguruan tinggi di seluruh indonesia. kegiatan ini dipandang memiliki nilai yang sangat strategis dalam upaya membangun bangsa dan negara.







Rektor Unhan berharap seminar ini dapat memunculkan ide-ide yang cemerlang dan potensial dari para pemapar. hal ini sangat bermanfaat bagi pembangunan karakter bangsa dan sikap bela negara warga negara indonesia di masa yang akan datang. Kegiatan ini akan dilaksanakan rutin oleh Unhan pada setiap tahunnya, sebagi salah satu  agenda tahunan bagi para dosen perguruan tinggi di Indonesia.







Dalam sambutan Keynote Speaker Menhan RI yang diwakili oleh Dirjen Pothan Kemhan menyampaikan maraknya pemanfaatan proxy war sebagai alat perang masa kini yang digulirkan oleh negara-negara tertentu guna mengintimidasi negara lain merupakan ancaman yang harus dihadapi oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, sebagai bangsa yang kuat, kita berkewajiban untuk mencari solusi agar ancaman tersebut tidak semakin menjadi-jadi. 







Pemapar pertama Yuniati Fransisca dari Universitas Nurtanio Bandung menjelaskan terkait peningkatan kesadaran bela negara di lingkungan perguruan tinggi menghadapi era revolusi industri 4.0. Bela negara adalah sebuah sikap atau perilaku warga negara yang cinta kepada Pancasila dan UUD 1945 yang berdampak pada munculnya pertahanan fisik maupun non fisik oleh perorangan maupun kelompok untuk melindungi persatuan dan kesatuan bangsa Pendidikan merupakan bentuk pertahanan fisik berupa tindakan melindungi persatuan dan kesatuan bangsa melalui pendidikan yang menekankan pada penguatan agama dan karakter.







Pebria Dheni Purnasari, dari  STIM Shanti Bhuana menjelaskan tentang pendidikan ketahanan sosial dan ekonomi dalam meningkatkan karakter nasionalisme dan wawasan bela negara. Karakter nasionalisme dan wawasan bela negara merupakan suatu kesatuan yang penting, sebagai bentuk realisasi terhadap peningkatan karakter nasionalisme dan wawasan bela negara, STIM Shanti Bhuana menetapkan mata kuliah Ketahanan Sosial dan Ekonomi sebagai mata kuliah penciri, analisis kuesioner dan wawancara, maka diketahui bahwa ketahanan sosial dan ekonomi memberi dampak yang positif pada peningkatan karakter nasionalisme dan wawasan kebangsaan, tujuannya adalah untuk mengembangkan wawasan bela negara serta meningkatkan karakter nasionalisme.







Kisti Artiasha membahas tentang mutualisme hukum internasional dan indonesia dalam upaya meningkatkan kesadaran bela negara. Terdapat keterikatan antara hukum internasional dan hukum nasional suatu negara dalam hal kesadaran bela negara.  Apabila Indonesia ingin menerapkan peraturan internasional ke dalam hukum nasional dalam rangka upaya bela negara, maka harus melalui ratifikasi atau sesuai dengan ketentuan konvensi yang akan di adopsi.







Sesi kedua Mohamad Mirwan menjelaskan peningkatan kesadaran bela negara melalui pemanfaatan sampah organic sebagai bahan biogas alternatif guna menunjang kemandirian bangsa. Pembuatan biogas dapat dilakukan dengan memanfaatkan sampah organik dengan penambahan bahan bahan alami yang merupakan buangan atau sisa, yaitu ampas tempe dan tanaman air. Efektivitas produksi biogas tertinggi didapatkan pada campuran bahan sampah organik dan hydrilla verticillata dengan rasio 90:10 dengan kadar gas metan sebesar 58,37%  dalam waktu 15 hari. Sedangkan Upaya mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada minyak bumi perlu keseriusan dalam bentuk penelitian, dukungan kebijakan yang kondusif dan perhatian dari masyarakat secara bersama.







Sri Suneki dari Universitas PGRI Semarang bahas reorientasi meningkatkan kesadaran bela negara  dalam mencegah disintegrasi bangsa bagi generasi millenial (studi kasus di smk pelita nusantara 2 semarang). Selayaknya generasi milenial memiliki daya juang yang tinggi, berdaya saing, dan memiliki character building. Pendidikan di sekolah harus menjembatani peserta didik dalam mengaktualisasikan diri sebagai generasi yang visioner, profesional, dan berkarakter.







Dalam kegiatan ini juga disampaikan Penyerahan Cinderamata dan Pemberian Tali Asih oleh Rektor Unhan kepada Pembicara, 3 Reviewer dan 8 Peserta Call for Papers dan sesi Foto Bersama. 







Seminar Nasional juga dihadiri pejabat Eselon I, II, III dan IV di lingkungan Universitas Pertahanan. (Red)