JAKARTA - Mengingat peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia pada acara Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar pada 1955 di Bandung merupakan komitmen Indonesia dalam melawan kolonialisme di Asia Afrika. Pidato yang berjudul “Unity in Diversity Asia Africa yang disampaikan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, telah membuka cakrawal pemikiran baru di dunia.

Unutk membangun dan menignkatkan kesadaran masyarakan akan pentingnya warisan documenter Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Perpustakaan Nasional menggelar pameran arsip KAA yang dibuka Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri.

Pada kegiatan yang digelar di Auditorium LIPI, Jakarta Selasa (17/4) itu juga dilakukan peluncuran buku ‘Pidato 29 Pemimpin Asia Afrika di Konferensi Asia Afrika 1955’.

"Pada abad 20, ada tiga peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia. Saya berusia 8 tahun saat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, berusia 13 tahun saat Pidato Bung Karno di PBB 1960, berusia 14 tahun saat Gerakan Non-Blok Pertama diadakan di Beograd 1961. Saya adalah delegasi termuda,” ujar Megawati saat menjadi keynote speech.

Konfrensi Asia Afrika diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara, menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah, yaitu Dasa Sila Bandung. Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak dan juga kepada UNESCO yang telah menetapkan arsip Konferensi Asia-Afrika sebagai Memory of The World pada tanggal 9 Oktober 2015,” tambah Megawati.

Dengan ini, berarti semangat gotong-royong dan solidaritas, prinsip musyawarah untuk mufakat, kesepakatan untuk menentang segala bentuk penjajahan, serta persatuan dalam keberagaman yang disuarakan dalam KAA diakui sebagai ingatan kolektif dunia.

“Live and Let Live Asia Africa Unity in Diversity”, tegas Bung Karno. Ketika arsip KAA diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO, maka arsip Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB ke-XV (lima belas) dan Arsip GNB Pertama pun, sangat layak pula untuk menjadi Memory of The World.

“Jelas bukan hanya Indonesia, tapi dunia, membutuhkan Arsip KAA, Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai ingatan kolektif. Goresan dari “Tiga Tinta Emas abad 20” tersebut adalah bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Bung Karno telah mengingatkan semua warga bangsa saling terkoneksi dalam menghadapi problematika abad 21. Contohnya terkait perubahan iklim dan cuaca, yang juga berpengaruh pada perubahan budaya dan cara hidup manusia, serta berdampak pada politik ekonomi, terutama pangan. Ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, beradab dan bermartabat.

“Sehingga penting untuk memperjuangkan Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai Memory of The World, yang akan ditetapkan UNESCO pada tahun 2019,” tandas Megawati.

Sementara itu, Plt Kepala LIPI, Bambang Subiyanto menjelaskan, sebagai komitmen menjaga dan melestarikan kekayaan bangsa-bangsa di dunia dalam bentuk pusaka documenter, pihaknya menggandeng pihak terkait telah mengajukan arsip KAA sebagai bagian dari Memory of the World (MoW) UNESCO pada 2016.

“Tujuannya untuk menjaga dan melestarikan kekayaan dalam documentary heritage secara bijak karena dokumen-dokumen tersebut memiliki nilai sejarah dan artistic yang tinggi,” ujar Bambang.(vita)