Connect with us

Opini

Sektor Desa dari Segi Ekonomi

Foto Ilustrasi, sektor desa

Oleh : Adam Rumbaru

BISNISREVIEW.COM – Ketidakberdayaan sektor desa baik dari segi ekonomi, sumbardaya manusia hingga pada masalah lapangan pekerjaan, semua masalah tersebut tidak bisa dinafikan sebagai punca utama akibat dari arah dan kebijakan pembangunnan yang selalu terfokus pada sektor perkotaan, sehingga pedesaan sering terbaikan. Perhatian yang selalu diutamakan dalam berbagai kebijakan dasar dalam pembangunan yang tertumpu pada sektor perkotaan, hal ini mengakibatkan sektor pedesaan tidak memiliki kemampuan untuk bangkit dan membenah dirinya sendiri, sehingga bermuara pada ketidak berdayaan untuk keluar darigaris kemiskinan yang telah diwarisi regenerasi.

Dalam hal itu industrilisasi di desa dipandang perlu di genjot untuk mempercepat pembangunan sektor desa, setentunya Sektor industri diyakini memiliki peranan penting dalam upaya pencapaian pembangunan ekonomi suatu negara, namun disamping mempercepat pertumbuhan dan pencapaiaan ekonomi, lapangan pekerjaan, perubahan kawasan, insfrasruktur dan lain-lain, sektor ini juga berimpak pada dampak negatif, selain daripada dampak positif. Dalam kontek Negara-negara berkembang, khusunya Indonesia pembangunan sektor industri sebagai bagian dari proses pembangunan nasional dalam menigkatkan pertumbuhan ekonomi sebagai pendapatan negara.hal ini diyakini dapat membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat dalam waktu yang singkat.

Baca Juga: Melalui 10 Ribu Perpustakaan Desa, Perpusnas Menginisiasi Membangun Budaya Baca Masyarakat

Perubahan tersebut meliputi dampak pembangunan industri terhadap sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan sekitar industri dan kawasam. Untuk mempercepat pembangunan di sektor desa, kesimbangan pemabnaguanan listas sektor perlu menadapat cacatan khus dari pemerintah, terutama sektor desa harus menjadi perhatian utama, mengingat kawasan ini menjadi penyumbang utama dalam peningkatan kantong-kantong kemiskinan, padahal kalau kiata berbicara dan berfikir secara jernih dan bertindak secara arif, sektor ini dapat didedah dan dimodenkan menjadi kawasan penyediaan sumber utama bagi kemajuan daerah maupun nasioanal, baik dari penyediaan sumber makannan atau pangan, kebutuhan bahan industri asas dan ketenagga kerjaan, serta tenaga kerja yang ada di pedesaan itu sendiri menjadi pelopor dalam pembangunan desanya, sehingga sektor ini dapat mandiri, berdikari dan mampu memperkokohkan ekonominya dengan kemandirinyanya sendiri. Dari hasil-hasil yang dikeluarkan oleh sektor ini mampu diddedah untuk kemantapan dan ketahanan pangan baik di tingkat desa, daerah bahkan tingkat nasional, yang pada akhirnya dapat memajukan kawasan dan mampu pula menekan beban pemerintah dalam menangangi kemiskinan, mengurangi angka kemiskinan.

Membangun sektor desa memerlukan berbagai strategi dan kebijakan yang mendasar yang menyentuh semua sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat disektor ini, selain itu membangun sektor ini harus didasaripada kajian-kajian dan penelitian yang mendalam agar semua persolan dan permasalahan yang ada disektor ini dapat teratasi, juga perlu memperhatikan aspek-aspek sosila budaya yang terangkumi didalamya kearifan lokal dan dimensi-dimensi lainnya yang menyentuh semua lapisan sehingga terjawab semua persoalan, mulai dari pehambat dan kendala, potensi sumber daya manusia, sumber daya alam dan berbagai aspek lainnya Dampak dari luputnya perhatian pemerintah dalam aspek pembangunan antara lintas sektor telah menyumbang pada determinan terhadap aspek sosi ekonomi meliputi mata determinan ekonomi di sektor desa, keterbatasan sumberdaya manusia, baik secara fisik maupun non fisik. Yang mana disektor ini dari segi SDM, sangat jau ketinggalan.

Begitu juga halnya dengan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan itu sendiri. Yang seharunyan, sdm, sosio-ekonomi, sarana dan prasarana harus menjadi perhatian khusus bagi mendongkrak aspek-aspek lainnya di sektor ini, seperti akan tumbunya industriindustri kecil, senhingga pencaharian penduduk dari sektor pertanian menjadi sektor industri dan perdagangan, dampak lainnya terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas baik bagi masyarakat setempat. Sebagaimana Negara-negara maju telah,yang sedia awalnya bagi mencapai kemajuannya, diawali dari industrilisasasi.

Sektor pedesaan yang terlalu terbaikan dalam pembangunan baik dalam pembangunan fisik maupun non fisik telahpun menyumbang pada kesenjangan pembangunan dilintas sektor, hal ini dapat kita lihat dari segi non fisik, salah satunya ialah (SDM). Sumberdaya manusia disektor pedesaan sangat jauh ketinggalan dengan perkotaan, hal ini tidak terlepas dari aspek kebijakan pemerintan dalam melakaksanakan pembangunan yang lebih menitik beratkan pada sektor pedesaan, misnya dalam penempatan tenaga kependidikan, boleh dikatakan guru mulai peringkat SLTP dan SLTA yang memiliki jenjang akademik strata satu penempatannya lebih banyak dikota, sementara ditingkat desa guru peringkat SLTA masih mengajar di SLTA atau sederajat, tentu hal ini merupakan salah satu faktor penyebab pencapaian akademik bagi para pelajar didesa tidak tercapai sebagai manamestinya seperti yang diharapkan dalam cita-cita pendidikan nasional.

Baca Juga: Rektor Unhan RI Dampingi Menhan RI Resmikan 16 Titik Air Bersih di Desa Suro Banyumas

Dari segi tenaga kependidikan dan fasilitas pendidikan yang ada disektor desa sangat minim, sehingga sektor ini terus tertinggal jauh pendidikan dengan penduduk diperkotaan. Belum lagi akses pendidikan yang jauh, anak-anak didesa harus pergi kekota kecamatan untuk sekolah, meraka kadang-kadang harus berjalan kaki, maupun naik rakit sesuai dengan kondisi tempat tinggalnya. Dari segi jenjang pendidikan masyarakat di desa sangat rendah umumnya mareka hanya berpendidikan SD, SMP dan SMA.

Hal ini disebabkan karena masyarakat belum mengetahui betapa pentingnya pendidikan untuk masa depannya. Maka tidak meherankan dalam kehidupan sosial masyarakat disektor ini, apabila mereka telah menyelesaikan pendidikan hingga dibangku SLTA atau yang sederajat kebiasaanya kaum wanita, mareka akan dinikahkan oleh orang tuanya, bahkan yang lebih ironis lagi malah belum sempat menyelesaikan pendidikan ditingkat SLTA sudah menikah, juga yang sangat memprihatikan malah hanya sempat mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar mareka tidak lagi melanjutkan pendidikan dan dinikahkan apabila usianya sudah meranjak gadis, fenomena pernikahan di usia muda kerap terjadi dipedesaan.

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Rumah Inspirasi Indonesia (RI2)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini