Bisnis
Maksimalkan Harta Karun Indonesia, Pengamat: Ini Anugerah yang Perlu Dikelola Secara Profesional
BISNISREVIEW.COM – Pengamat Ekonomi, Hukum dan Politik Nasional yang juga akademisi menjabat Wk. Ketua 2 Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Dharma Andigha, Hardi Fardiansyah mengungkapkan, Harta karun Indonesia berupa sumber daya alam (SDA) yang melimpah merupakan anugerah yang paling berharga bagi bangsa Indonesia.
“Karena menjadi anugerah yang sangat besar, maka perlu dikelola secara profesional, agar memberi dampak positif bagi perekonomian dan rakyat Indonesia,” jelas Hardi kepada Bisnisreview.Com, senin (20/12/2021).
Hardi mengatakan, bandul ekonomi dunia kini bergerak mengayun ke arah ekonomi hijau. Untuk itu, ia berharap, Indonesia harus bersiap apabila suatu saat, entah dua, tiga atau lima tahun lagi, dunia hanya menerima aneka produk yang dihasilkan dari energi baru terbarukan.
“Nah, energi terbarukan itulah yang kini sedang dikembangkan. Di sisi lain, Indonesia memiliki kekuatan sumber daya alam melimpah untuk mendukung energi terbarukan alias energi hijau,” tutur Hardi.
Dengan adanya kekuatan SDA yang melimpah ini, Hardi yakin, Indonesia bisa bersaing dengan negara lain dalam pengembangan energi hijau. “Kita punya semua sumber energi hijau ini, dari potensi hidro 4.400 sungai, sinar matahari tropis sepanjang tahun, geothermal, sampai angin, maka itulah menjadi sumber kekuatan kita untuk bisa bersaing dengan negara lain,” terang Hardi.
Sebagaimana diketahui, bahwa Indonesia memiliki harta karun bernilai Rp 19.000 triliun. Hardi menyebut, harta karun Indonesia tersebut berupa kekayaan laut Indonesia yang diperkirakan mencapai US$ 1.338 miliar atau sekitar Rp 19.133 triliun (asumsi kurs Rp 14.300) per tahun. Harta karun tersebut mencakup perikanan tangkap, budi daya, hingga industri bioteknologi.
“Diperkirakan kekayaan laut kita sekitar US$ 1.338 miliar per tahun, ini dari semua sisi dari perikanan tangkap, perikanan budidaya dan industri pengolahan dan seterusnya. Ini peluang, kita baru sentuh perikanan tangkap saja, kita belum sentuh bioteknologi,” katanya.
Lebih lanjut, Hardi berharap agar potensi sumber daya alam berupa laut bahari itu harus dikelola secara optimal oleh para pengusaha tanah air. “Bila potensi sumber daya laut ini dikolala secara optimal, maka hasilnya baik untuk meningkatkan perekonomian bangsa,” ujar Hardi.
Baca Juga: https://bisnisreview.com/sk-mutasi-kemenkumham-ditemukan-banyak-kejanggalan/
Hardi mengungkapkan bahwa luas area Indonesia ada sekitar 8 juta km persegi atau sama seperti dengan Amerika Serikat (AS). Hanya saja, luas tersebut yang baru termanfaatkan 2,1 juta km persegi dan sisanya 6,1 juta km persegi belum berkontribusi pada perekonomian nasional.
“Nah, ini yang menjadi persoalan utama kita, padahal resources-nya luar biasa. Maka itu saya mengajak seluruh komponen masyarakat, bangsa dan negara untuk segera bergerak bersama resources kelautan yang saat ini telah menunggu,” pintanya.
Menurut Hardi, Indonesia termasuk negara pengekspor terbesar rumput laut, di mana sekitar 25% kebutuhan dunia berasal dari tanah air. Hanya saja, permasalahannya produk yang diekspor masih bahan mentah sehingga belum memiliki nilai tambah yang lebih besar.
“Rumput laut menjadi produk andalan sektor kelautan karena produk turunannya sangat besar. Rumput laut bisa menjadi bahan baku kosmetik, obat-obatan hingga tepung. Kita eksportir terbesar tapi kita belum sentuh hilirisasi Ini peluang,” tutupnya. (BR/Arum)