Connect with us

Bisnis

Pengamat Ekonomi: Kenaikan Tarif Ojol Bisa Menyebabkan Empat Implikasi Bagi Penumpang dan Driver

Direktur Eksekutif Moluccaas Economyc Reform Intitute(MOERI), Tammat R. Talaohu

BISNISREVIEW.COM – Sontak, kebijakan kenaikan tarif ojek online (Ojol) oleh pemerintah melalui Kementerian Perhubungan menarik para pengamat ekonomi untuk memberikan pandangan dan masukkan ke pemerintah.

Direktur Eksekutif Moluccaas Economyc Reform Intitute(MOERI), Tammat R. Talaohu mengungkapkan, kenaikan tarif ojol bisa menyebabkan empat implikasi bagi penumpang, mitra driver. Bukan saja itu, namun juga berdampak buruk kepada masyarakat secara luas.

“Kenaikan tarif ojek online memiliki empat implikasi baik dari sisi penumpang, mitra pengemudi, dan juga bagi masyarakat secara luas.Setiap perkembangan sektor yang diatur terlalu signifikan lewat regulasi akan berakibat tidak ramah inovasi,” kata Tammat R. Talaohu kepada Bisnisreview.Com, Sabtu (13/8/2022).

Yang dimaksud Talaohu soal empat implikasi tersebut yang pertama adalah tidak menjamin kenaikan pendapatan mitra pengemudi. Dia menilai hal ini terlihat dari sejumlah riset MOERI yang menunjukkan bahwa kenaikan tarif ojek online menyebabkan turunnya jumlah pesanan (order).

“Kedua, penurunan order terasa di 5 kota besar, sebagaimana yang terjadi pada Mei 2019 lalu yakni penurunan order sebesar 75% di lima kota yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta,” sebut Talaohu.

Ketiga, naiknya harga jual pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Menurut Rifki, banyak UMKM yang disokong oleh kehadiran ojek online. Misalnya mitra GoFood yang juga terdampak dari biaya tarif (ongkos) ojek online.

“Tidak hanya dampak ongkos kirimnya saja, tetapi juga ongkos logistik mereka juga otomatis mempengaruhi terhadap harga penjualannya,” ujarnya.

Keempat, naiknya inflasi akibat rentetan bisnis ojek online. Menurutnya, kenaikan tarif tersebut tentu akan mempengaruhi inflasi. Hanya, ia enggan menjelaskan secara rinci soal akibat dampak terhadap inflasi ini.

Baca Juga:https://bisnisreview.com/kenaikan-tarif-ojol-dinilai-picu-inflasi-ekonom-sebaiknya-pemerintah-mempertimbangkan-berbagai-aspek/

Dari keempat dampak tersebut, lanjut Talaohu, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah itu bisa mengakibatkan gesekan yang bisa mempengaruhi hal-hal lainnya,” katanya.

Menurut Talaohu, salah satu faktor penghambat perkembangan setiap sektor yang signifikan adalah regulasi yang tidak ramah inovasi. Menurutnya, semakin banyak regulasi baru yang dibentuk maka akan menutup celah baru untuk inovasi.

“Akan banyak biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah dan perusahaan, sehingga aturan ini perlu regulasi berbasis prinsip agar tidak merubah substansi (regulasi) itu sendiri,” ujarnya.

Dikatakan Talaohul, kenaikan biaya transportasi juga bisa mendatangkan multiplier effect lain, yaitu membebani usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Misalnya, industri makanan-minuman di skala UMKM yang bisa menaikkan harga. Pasalnya penggunaan transportasi ojol ini sudah menjadi moda transportasi sehari-hari yang banyak digunakan untuk berbagai aktivitas masyarakat, baik pribadi maupun usaha,” jelasnya. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis