Bisnis
Strategi BI Meredam Gejolak Resiko Tantrum Agar Tidak Terjadi di Tahun Ini
Bank Indonesia selaku bank sentral bersama dengan pemerintah secara rutin melakukan koordinasi internasional, seperti contohnya dalam forum G20, pertemuan rutin IMF, dan lain-lain.
BISNISREVIEW.COM – Bank Indonesia (BI) yakin risiko taper tantrum atau pembalikan kebijakan moneter global pada tahun 2013 tak akan terulang pada tahun 2021 ini.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Riza Tyas mengatakan, Indonesia tak perlu takut akan risiko asing berbondong-bondong keluar dari pasar keuangan indonesia. Namun, bila sampai itu terjadi, BI yakin sudah memiliki beragam strategi yang bisa meredam gejolak tersebut.
“Strategi Pertama, BI akan melakukan intervensi. Tak hanya satu, tetapi BI memiliki 3 intervensi (triple intervention), yaitu di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), juga intervensi di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN),” jelas Riza di Jakarta, Kamis (25/3/2021).
Menurut Riza, risiko taper tantrum dipengaruhi oleh kondisi baik domestik maupun internasional yang lebih baik daripada satu windu silam.
“Kita harus ingat, kondisi pada saat tahun 2013 dengan kondisi sekarang jauh lebih beda. Secara keseluruhan, kita sudah siap dengan kemungkinan yang bakal terjadi bahkan sebelum Covid-19” ujar Riza.
Namun, kapan triple intervention ini dilakukan? Tentu harus menggunakan strategi operasional yang matang dan dengan melihat kondisi pergerakan pasar.
Kedua, adanya koordinasi yang membuat Sistem Stabilitas Keuangan (SSK) yang lebih tangguh. Koordinasi antara bank sentral ini dilakukan dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun otoritas lain yang terkait.
“Kita sudah siapkan. Sehingga kalau sudah ada persiapan, maka SSK domestik juga akan terjaga lebih kuat,” tambah Riza.
Ketiga, BI memliki kerja sama internasional yang diperluas. Salah satunya, adalah kerja sama transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung atau local currency settlement (LCS) dengan beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan sedang dalam proses penjajakan dengan China.
Keempat, bank sentral bersama dengan pemerintah juga rutin melakukan koordinasi internasional, seperti contohnya dalam forum G20, pertemuan rutin IMF, dan lain-lain. Dari pertemuan ini, Indonesia bisa tahu bagaimana respons dari negara lain dalam menghadapi krisis.
Namun ke depan, Riza tak menampik masih ada risiko maupun gejolak kecil yang bisa mempengaruhi Indonesia. Namun, Riza yakin, Indonesia lebih siap dalam menghadapinya.
“Juga karena tak hanya perekonomian Amerika Serikat saja yang membaik, ekonomi Indonesia juga membaik tapi dalam kecepatan yang tak salam. Kami sudah siapkan langkah, untuk taper tantrum maupun risiko jangka panjang,” imbuhnya. (BR/Arum)