Connect with us

Bisnis

Covid-19 Hantam Kondisi Keuangan, “Bisnis Penerbangan Garuda Indonesia Lesu”

Pengamat Hukum Dr. Nanda Dwi Rizkia SH, MH.

BISNISREVIEW.COM – Akibat adanya tekanan pandemi Covid-19 yang menghantam kondisi keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyebabkan bisnis penerbangannya menjadi lesu.

Maskapai pelat merah ini tercatat memiliki utang yang jatuh tempo per Mei 2021 sebesar US$ 4,9 miliar atau sekitar Rp 70 triliun dari total Rp 140 triliun. Sebagian utang itu merupakan pinjaman ke pihak perbankan.

Perbankan siap menggelar restrukturisasi kredit lanjutan terhadap debitur yang terdampak pandemi Covid-19. Satu di antara debitur yang terus dipantau kesehatannya oleh para bankir adalah GIAA.

Menanggapi masalah kesulitan keuangan GGIA) tersebut, Pengamat Hukum, Dr. Nanda Dwi Rizkia SH, MH, menyarankan sebaiknya ada keterbukaan dari pihak Garuda Indonesia. Menurut Nanda, hal ini sangat penting untuk diketahui rakyat karena Garuda adalah maskapai penerbangan plat merah milik negara.

“Saya selaku akademisi sangat memahami kesulitan yang dialami Garuda Indonesia saat ini tentang kebijakan pembatasan pergerakan penerbangan selama pandemi covid 19. Kesulitan keuangan ini sangat berat meskipun dibantu profesional hebat, kecuali ada dana cash untuk menutupi beban masa lalu,” ujar Nanda melalui pesan singkatnya diterima Bisnisreview, Selasa (29/6/2021).

Nanda menilai kondisi keuangan Garuda saat ini juga disebabkan kesalahan kumulatif termasuk pelanggaran fleet plan yang tidak sesuai kebutuhan sejak tahun 2012.

“Dimasa lalu pemerintah pernah memutuskan memberikan PMN Rp 8,5 Trilyun, namun itu tidak boleh karena Garuda adalah perusahaan publik yang terdaftar di bursa,” lontar Nanda.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan tentang kondisi perusahaan dan perihal menawarkan pensiun dini kepada karyawan.

Dia mengungkapkan kesulitan keuangan perusahaan akibat pembatasan pergerakan penerbangan dimasa pandemi. Pihaknya mengaku terpaksa menawarkan pensiun dini dan dari 7.890 karyawan pada tahun 2020 kini berkurang menjadi 5.945 orang. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi beban keuangan perusahaan.

Irfan sempat menyebutkan untuk gaji karyawan bulan Mei pihak perusahaan masih harus berjuang keras karena pendapatan hanya USD 56 juta dari biasanya USD 200 juta dimasa sebelum pandemi. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis