Connect with us

Industri

Mengelola Riset, Menguasai Data untuk Masa Depan, Pengamat: Ada Tiga Langkah Era Revolusi Industri 4.0 

Pengamat Hukum dan Dosen dari STIH Dharma Andigha, Dr. Nanda Dwi Rizkia, SH, MH

BISNISNISREVIEW.COM – Riset adalah ujung tombak proses pencarian, pengumpulan data yang diperlukan untuk perumusan kebijakan dan strategi pembangunan.

Pengamat Hukum dan Dosen dari STIH Dharma Andigha, Dr. Nanda Dwi Rizkia, SH, MH menandaskan, mengelola data riset sama saja dengan menguasai data untuk menguasai masa depan. Ia menjelaskan bahwa menyimpan data riset dalam sebuah big data ialah bagian dari aset yang perlu dikelola dalam sistem Industri 4.0.

“Jadi saya ingin menyampaikan bahws riset dalam RI 4.0 Transformasi riset dalam era Revolusi Industri (RI) 4.0 dapat dimulai melalui tiga langkah yang saling bersinergi. Pertama memperkuat tata kelola data melalui big data riset. Kedua, penguatan kelembagaan riset, dan ketiga, mendorong kemanfaatan dan fungsi manfaat riset,” jelas Nanda dalam keterangan tertulisnya diterima Bisnisreview.Com, Rabu (14/7/2021).

Kebutuhan yang mendesak saat ini ialah menyiapkan big data riset terintegrasi perguruan tinggi dan lembaga riset nasional. Untuk itu, Nanda mengingatkan agar Indonesia tidak boleh lagi membiarkan ada data yang tercecer dari big data baik karena akses jaringan internet, kemampuan memanfaatan informasi teknologi, maupun kemampuan individual yang sering terbatas.

“Karena itu, sebenarnya yang harus diubah ialah cara pandang kita terhadap riset. Selama ini kita hanya memandang riset sebagai alat kelengkapan pemerintah, jika diperlukan untuk pengambilan keputusan dan kadang-kadang tidak dilirik sama sekali. Atau, sering kali dianggap riset hanya sebuah aktivitas yang hanya menghasilkan output berupa produk; kalau bukan produk, bukanlah sebuah riset,” ujar dia.

Cara pandang ini, sambung Nanda, yang seharusnya lebih dahulu diubah sehingga riset lebih multiguna dan perjalanan kebijakan lebih terukur. “Sebuah industri Riset adalah sebuah industri yang memberikan dampak ganda (multiplier effect) bagi pembangunan,” pungkasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, kehadiran riset dalam sebuah negara sangat penting, sebab mampu membantu mendistribusikan anggaran pembangunan, menggerakkan ekonomi transportasi, menstimulasi pembangunan daerah, memperkuat data nasional ‘big data’, share income generating kepada lapisan masyarakat dan lapangan pekerjaan, juga menumbuhkan inovasi dan daya saing bangsa.

“Riset saat ini berkembang tidak hanya melalui anggaran rutin pemerintah, tapi juga bersumber dari swasta, negera asing, serta swakarya masyarakat. Jika dilakukan pemantauan secara komprehensif dari semua kegiatan riset, kita akan melihat dengan jelas struktur manusia yang bergerak di area riset,” tegasnya.

Dengan demikian, ungkap Nanda, riset memerlukan sumber energi, SDM, dan storage system sebagai dokumen riset. Ia menyebut, sumber energi riset ialah dana dan prasarana riset. Jika dipetakan, selama ini tidak kurang 25% dari anggaran belanja lembaga ialah untuk riset, baik riset dasar, terapan, maupun inovasi dan produksi baru.

“SDM bukan hanya peneliti yang mengelola riset. Namun di dalamnya termasuk sumber daya asisten riset, pendamping riset yang dapat berasal dari masyarakat di lapangan yang terlibat pengumpulan data,” paparnya.

Meski demikian pentingnya keberadaan pendamping riset, namun Nanda menyayangkan, keberadaan tenaga pendamping riset sering kali tidak dilihat, padahal mereka memberikan kontribusi waktu dan tenaga demi susksesnya riset.

“Banyak sekali riset aplikatif yang melibatkan pendamping baik sebagai penerjemah, pembantu survei, tenaga angkut, maupun fasilitator lokal,” lontar Nanda.

Menurut Nanda, satu tema riset bisa melibatkan masyarakat dan tenaga periset sebagai sumber daya riset. Sementara itu, output riset dapat berupa data, report, paten, produksi barang, dan inovasi lain.

“Sampai saat ini output riset kita belum terkelola dengan baik. Banyak data penelitian yang masih terdokumentasi dalam tumpukan kertas report, laporan dan paper tanpa bisa dibunyikan. Bahkan, lebih parahnya data riset kita terekam di negeri asing mulai dari riset biodiversitas, nanobioteknologi, sampai dokumentasi riset,” tutupnya. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Industri