Connect with us

Nasional

Kibarkan Bendera Putih, Warga Kawasan Wisata Guci Harap Pemerintah Segera Akhiri PPKM

Warga di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah kibarkan bendera putih di depan rumahnya karena menyerah dengan ditutupnya objek wisata tersebut.

BISNISREVIEW.COM – Warga di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah kibarkan bendera putih di depan rumahnya karena menyerah dengan ditutupnya objek wisata tersebut. Padahal ribuan warga di kedua desa ini hanya mengandalkan sektor wisata untuk mencari nafkah.

Warga berharap pemerintah pusat mengakhiri PPKM Level 3-4, agar mereka kembali bangkit. Selain villa dan homestay, pasar wisata dan ratusan pedagang kaki lima juga terpaksa tutup karena sepinya pembeli akibat penutupan objek wisata Guci.

Hampir sebagian besar villa dan homestay di wilayah tersebut nampak terbengkalai, karena ratusan karyawan telah dirumahkan sejak sebulan lalu.

Ketua Paguyuban Wisata Guci, Sopan Sofianto mengatakan, akibat PPKM Darurat mereka bahkan telah menjual aset yang dimiliki dari mulai sepeda motor hingga perhiasan yang dimiliki.

Hal tersebut dilakukan karena warga di sekitar objek wisata Guci sudah tidak memiliki penghasilan selama sebulan terkhir. “Kita sudah meminta pelonggaran namun hingga saat belum direspon pemerintah kabupaten,” ujar Sopan, Jumat, (30/7/2021).

Sopan, menuturkan pemasangan bendera putih sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Aksi itu dilakukannya secara suka rela tanpa ada paksaan atau arahan dari siapapun.

“Aksi ini sebagai wujud ketidakmampuan kami menghadapi pandemi, terlebih penutupan wisata yang terus berlanjut dan entah sampai kapan,” ujarnya.

Menurut Sopan, bendera putih merupakan penanda beban yang harus dihadapi seperti kebutuhan sehari-hari untuk makan, bayar listrik, jajan anak, sekolah, membayar angsuran bank dan lainnya. Ironisnya, hingga kini mereka belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

Sehingga beban yang harus ditanggung jauh lebih berat. Mencari pekerjaan atau opsi lain pun sulit, karena tidak ada modal dan keterbatasan akses.

“Sebetulnya kami sangat mematuhi aturan pemerintah, Prokes di area wisata kami menjalankan termasuk PPKM. Sehingga yang sangat kami butuhkan saat ini adalah solusi, perhatian, dan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, jumlah homestay di area wisata Guci sekitar 120, bangunan hotel besar 10, dan sisanya adalah villa.

Sopan juga termasuk yang terdampak, penginapan yang dikelolanya sepi dan tidak bisa menerima tamu karena adanya penutupan wisata. Praktis, dia tidak memiliki pendapatan. Untuk menyambung hidup keluarganya, Sopan terpaksa menjual salah satu aset motor miliknya.

“Kondisi saat ini sangat memprihatinkan, saya sampai harus menjual motor untuk bertahan hidup keluarga. Teman-teman yang lain sesama pengelola homestay, villa, dan lainnya juga sama, mereka ada yang menjual asetnya untuk bertahan hidup,” keluhnya. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Nasional