Bisnis
Debat Lawan Luhut Soal Hilirisasi, Faisal Basri Gandeng Tom Lembong
BISNISREVIEW.COM – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri menyatakan siap untuk berdebat dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan soal konsep hilirisasi yang kerap digaungkan dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Untuk berdebat dengan Luhut, Faisal Basri mengaku, dirinya akan menggandeng Co-Captain Timnas Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Amin)Tom Lembong untuk debat terkait dengan program hilirisasi.
“Saya bisa debat deh sama Luhut Pandjaitan secara terbuka gitu. Anda organisir aja, saya ama Tom Lembong deh berdua lawan Luhut Pandjaitan dengan Seto,” kata Faisal Basri dalam diskusi publik Indef, dikutip Selasa (6/2/2024). Melalui debat tersebut, ekonom senior ini ingin menunjukkan bahwa konsep hilirisasi sangat sesat.
“Semua bisa selesai menunjukkan betapa sesatnya hilirisasi ini,” ujarnya.
Baca Juga: DPP PSI Hargai Sikap Kritis dan Kejujuran Ekonom Senior Faisal Basri yang Mengakui Kekhilafannya
Menurut catatan Bisnis, Tom Lembong melalui podcast Total Politik, sempat melontarkan kritikannya terhadap kebijakan hilirisasi nikel pemerintah yang mengacu pada tren harga komoditas yang terus menyusut setahun terakhir.
“Harga nikel di seluruh dunia kira-kira sudah turn 30% dalam 12 bulan terakhir. Dan diprediksi tahun depan akan terjadi surplus stok Nikel dunia, terbesar sepanjang sejarah,” kata Tom Lembong, pada Januari 2024.
Dia menilai, keputusan Indonesia membangun banyak smelter akan membanjiri dunia dengan nikel. Imbasnya, harga nikel akan jatuh lantaran terjadi oversupply.
Mantan Menteri Perdagangan ini juga menyinggung bahwa 100% mobil Tesla yang dibuat di China kini tak lagi menggunakan baterai nikel, melainkan menggunakan LFP. Pernyataan Tom Lembong kemudian mendapatkan respons dari Menko Marves Luhut Pandjaitan.
Baca Juga: Luhut Nilai Thomas Lembong Gagal Selesaikan Tugas OSS
Dia mengatakan, tren penurunan harga nikel belakangan ini bagian dari siklus komoditas yang terjadi dalam rentang perdagangan yang relatif panjang.
Menurut Luhut, siklus komoditas itu menjadi gerak alamiah sisi permintaan dan pasokan komoditas di pasar pada periode dagang yang cukup panjang. “Anda Tom Lembong perlu melihat data panjang 10 tahun, kan anda pebisnis juga, kan siklus dari komoditas itu naik turun. Apa itu batu bara, nikel, timah, emas apa saja,” kata Luhut lewat keterangan video dikutip Kamis (25/1/2024).
Luhut menuturkan, rata-rata harga nikel berada di kisaran US$15.000 per ton sejak 2014. Nominal tersebut masih lebih rendah dibanding harga sekarang yang relatif diperdagangkan di kisaran US$16.000 per ton. Bahkan, dia menambahkan, rata-rata nikel dunia pada periode 2014 sampai dengan 2019 berada di kisaran US$12.000 per ton.
Kala itu, Indonesia baru memulai kebijakan moratorium ekspor nikel dan pembangunan smelter yang lebih serius.
“Tom harus mengerti kalau harga nikel terlalu tinggi, sangat berbahaya, kita belajar dari kasus Cobalt 3 tahun lalu, harganya begitu tinggi orang akhirnya mencari bentuk baterai lain salah satunya LFP,” ujarnya.(BR/Arum)