Connect with us

Bisnis

Dibebani Penerapan PPKM Darurat, Bisnis Asuransi Perjalanan Merosot Signifikan

Foto Ilustrasi

BISNISREVIEW.COM – Berimbas dari Pandemi Covid-19 yang saat ini semakin meningkat sehingga dapat mempengaruhi berbagai sektor termasuk pariwisata. Hal ini turut memberi ketidakpastian terhadap nasib asuransi perjalanan di tahun 2021.

Asuransi Wahana Tata (Aswata), misalnya, per Juli 2021 hanya mengantongi premi kurang dari Rp 20 juta. Alhasil, lini bisnis ini berkontribusi sangat kecil terhadap premi perusahaan.

Presiden Direktur Aswata Christian Wirawan Wanandi mengatakan bahwa dengan kontribusinya yang minim, perusahaan tidak memasang target besar. Aswata justru lebih fokus memaksimalkan lini usaha lain untuk mendongkrak kinerja perusahaan.

“Tahun ini, fokus kami pada asuransi properti, engineering dan kendaraan,” kata Presiden Direktur Aswata Christian Wirawan Wanandi, Jumat (16/7/2021)

Wanandi mengaku, saat ini bisnis asuransi perjalanan merosot signifikan selama pandemi. Bahkan, penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat ikut membebani lini usaha ini.

“Sampai akhir tahun, Aswata masih optimistis bisa kumpulkan pendapatan premi Rp 1,9 triliun dari keseluruhan bisnis. Target itu naik tipis dari realisasi tahun sebelumnya yakni Rp 1,8 triliun,” tegasnya.

Tak berbeda jauh, Simas Insurtech bahkan merevisi target premi asuransi perjalanan dari Rp 75 miliar menjadi Rp 40 miliar tahun ini. Hingga Juni 2021, perusahaan baru kantongi premi Rp 15 miliar.

Padahal, lini usaha ini sempat menunjukkan kenaikan pada kuartal dua 2021. Namun akibat kebijakan PPKM, kinerja Simas Insurtech juga ikut terdampak.

“Namun sejak ada PPKM, dampaknya akan terasa di kuartal tiga 2021. Saya harap PPKM ini tidak berlangsung lama,” terang Presiden Direktur Simas Insurtech Teguh Aria Djana.

Guna mengantisipasi penurunan lebih besar, perusahaan berencana menggandeng lebih banyak partner seperti perusahaan tiket online dan markeplace. Selain itu, melengkapi produk asuransi perjalanan dengan jaminan risiko Covid-19.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membenarkan, bahwa kegiatan bepergian menurun sehingga kebutuhan asuransi perjalanan juga merosot. Meski demikian, ia optimis kinerja asuransi kesehatan terangkat.

“Pemerintah masih optimis meningkatkan kegiatan di sektor pariwisata dengan protokol kesehatan yang ketat. Ini dimaksudkan agar masyarakat sadar pentingnya kesehatan untuk menanggulangi Covid-19,” Direktur Eksekutif AAUI Dody AS Dalimunthe.

Menurut Dody, salah satu mitigasi risikonya melalui penggunaan asuransi perjalanan. Dengan begitu, ia berharap kontribusi industri asuransi dapat membantu optimisme peningkatan kegiatan pariwisata ke depan.

“Saat kondisi masyarakat khawatir dengan kondisi kesehatannya, maka lini asuransi kesehatan dan kecelakaan diri yang berperan untuk memberikan stimulus aktifitas masyarakat agar tetap produktif,” tambahnya.

Di sisi lain, ia menilai perusahaan melakukan berbagai cara untuk mempertahankan bisnisnya, termasuk peninjauan serta penerapan prudent underwriting. Kemudian mendesain produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis