Connect with us

Hukum

Menunggu Bom Waktu dari Mantan Dua Orang Napi, “Partai Demokrat di Ujung Tanduk”

Pengamat Hukum, Andi Syamsul Bahri, SH

Perseteruan Kepengurusan Partai Demokrat ini, menurut Syamsul, adalah pertempuran dua orang Pensiunan Jenderal TNI AD. Sayangnya kedua Jenderal ini menggunakan dua orang mantan napi tersebut sebagai konsultan politik masing-masing kubu.

BISNISREVIEW.COM – Kisruh Partai Demokrat belum juga berakhir. Malah lebih bertambah panas situasi politik internal. Lebih parah lagi bila dua orang mantan narapidana (Napi) partai yakni Andi Alfian Mallarangeng dan Nazaruddin tampil lagi di panggung politik internal.

Pengamat Hukum Nasional, Andi Syamsul Bahri, SH mengatakan, bila dua orang napi itu berbeda pandangan politik, maka Partai Demokrat sedang berada di ujung tanduk.

“Sebaiknya segera diambil langkah strategi untuk mengakhiri badai yang saat ini dihadapi Partai Demokrat. Saya minta kedua orang napi partai Demokrat tidak diikut serta dalam permainan politik ini, karena ini ada bom waktu bagi partai,” ujar Syamsul dalam keterangan tertulisnya diterima Bisnisreview. Com, Jumat (12/3/2021).

Syamsul menyebut kedua mantan napi itu sedang ikut dalam dua kubu yang berbeda yakni kubu Kemayoran dan Kubu Deli Serdang. “Andi Alfian Mallarangeng di Kubu Kemayoran dan Nazaruddin di ku Deli Serdang. Ini yang dikhawatirkan menjadi bom waktu yang berefek negatif terhafap partai,” kata Syamsul.

Meski pun kedua mantan napi itu dipenjara dengan kasus yang sama. Mereka berdua terlibat dalam kasus korupsi proyek Hambalang di era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika itu.

”Namun setelah bebas dari penjara, mereka kembali dalam pekerjaanya semula selaku politisi. Andi Alfian Mallarangeng mendukung SBY, sementara Nazaruddin mendukung Moeldoko,” terangnya.

Perseteruan Kepengurusan Partai Demokrat ini, menurut Syamsul, adalah pertempuran dua orang Pensiunan Jenderal TNI AD. Sayangnya kedua Jenderal ini menggunakan dua orang mantan napi tersebut sebagai konsultan politik masing-masing kubu.

“Melibatkan mantan dua orang napi ini sama seperti genderang perang yang ditabuh. Hal ini menunjukan betapa pengaruh dan peran dua mantan napi itu dalam perhitungan politik partai Demokrat,” tandasnya. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Hukum