Connect with us

Bisnis

Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS yang Ditopang Laporan Indeks Manufaktur AS yang Lebih Baik

Rupiah melemah

BISNISREVIEW.COM – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada akhir perdagangan Selasa melemah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang ditopang laporan indeks manufaktur Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari perkiraan untuk April 2023.

Rupiah pada Selasa ditutup menurun 40 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp14.714 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.674 per dolar AS.

“PMI manufakturnya naik menjadi 47,1 bulan lalu, memantul dari 46,3 pada bulan Maret, yang merupakan pembacaan terendah sejak Mei 2020,” kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam hasil kajiannya di Jakarta, Selasa (2/5/2023).

Ibrahim menyebutkan pelaku pasar mengantisipasi data pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal Pertama 2023. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 4,95 persen (yoy), tidak sesuai dengan ekspektasi pemerintah dan Bank Indonesia di kisaran 5 persen (yoy).

“Kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen bulan April 2023 mengalami inflasi sebesar 0,33 persen secara bulan ke bulan (mtm). Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,01 persen (ytd) dan inflasi tahunannya sebesar 4,33 persen (yoy),” katanya dalam riset harian, Selasa (2/5/2023).

Inflasi Maret ini lebih tinggi dari bulan Maret 2023, sebesar 0,18 persen. Secara historis Lebaran, BPS mencatat inflasi 0,33 persen relatif rendah dibandingkan periode Lebaran sebelumnya.

Pada perdagangan hari ini, Rabu (3/5/2023), Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14,680 hingga Rp14.750.

Hal ini disebabkan oleh pasokan holtikultura dan beras yang terjaga yang tercermin dari deflasi cabai merah dan cabai rawit. Aktivitas manufaktur Indonesia melonjak pada April 2023 didukung oleh kuatnya permintaan dalam negeri menjelang Lebaran.

Sedangkan untuk periode April 2023, PMI manufaktur Indonesia ada di angka 52,7. PMI jauh lebih tinggi dibandingkan pada Maret 2023 yang tercatat di 51,9. Indeks sebesar 52,7 adalah yang tertinggi sejak September 2022 atau tujuh bulan terakhir.

Data hari ini juga menunjukkan PMI manufaktur Indonesia sudah berada dalam fase ekspansif selama 20 bulan terakhir. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Aktivitas bisnis meningkat ditopang oleh permintaan dari dalam negeri yang lebih kencang sehingga permintaan baru serta volume produksi meningkat ke level tertingginya selama tujuh bulan.

Untuk produsen barang mulai meningkatkan produksi karena membaiknya prospek bisnis dalam jangka pendek, sehingga berdampak ke ekspansi. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis