Connect with us

Bisnis

Saham-Saham Bank Digital Kompak Terkoreksi, Investor Masih Wait and See

Bank Jago adalah salah satu bank digital yang sahamnya turun

BISNISREVIEW.COM – Penurunan saham bank digital telah menjadi faktor utama pemicu kemerosotan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun ini. Penurunan tersebut makin parah setelah saham sektor teknologi juga turun dalam beberapa bulan terakhir.

Sejak perdagangan saham dibuka dalam sepekan lebih, harga saham bank digital seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 19,8 persen. Lalu PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) terkoreksi 3,12 persen, PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) jatuh 4,95 persen, PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) terkoreksi 1,62 persen dan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) bergerak flat.

Baca Juga: https://bisnisreview.com/terjaganya-persepsi-positif-investor-berkat-rilis-ikk-ihsg-melanjutkan-penguatan/

Head of Research Jasa Utama Capital Cheril Tanuwijaya mengatakan penurunan pada saham bank digital terjadi karena investor mengasosiasikan saham tersebut setara dengan saham teknologi yang ikut terdampak sentimen global.

“Tidak hanya satu dua saham bank digital saja yang melemah, melainkan semuanya kompak terkoreksi. Untuk saat ini investor masih wait and see dan lebih memilih aset yang memiliki risiko lebih rendah seperti obligasi negara untuk dibeli” kata Cheril dalam risetnya, Selasa (10/1/2023).

Menurutnya saham bank digital telah jatuh lebih dari 50 persen terhitung sejak awal 2022 silam. Jadi, jika dibandingkan dengan indeks sektoral lainnya, peluang penurunan harga saham bank digital ke depan relatif lebih terbatas.

Baca Juga: https://bisnisreview.com/pengamat-pembangunan-ekonomi-nasional-dalam-pencapaiannya-tidak-terlepas-dari-peran-sektor-hukum/

“Dari semua bank digital yang listing di BEI, saham Bank Jago [ARTO] mengalami penurunan yang paling tajam. Padahal secara fundamental, Bank Jago memiliki fundamental yang solid,” ungkapnya.

Analis MNC Sekuritas Tirta Citradi menilai secara fundamental ARTO memiliki likuiditas yang masih melimpah serta kekuatan modal yang kuat dan tercermin dari rasio Capital Adequacy hingga 97,5% persen hingga September 2022.

Sebelumnya, Analis Samuel Sekuritas Paula Ruth menyebutkan bahwa saham bank digital masih menyisahkan prospek dalam jangka panjang.

“Pertumbuhan kredit akan tetap kuat yang juga membuat prospek pertumbuhan kredit bank digital akan tetap kuat, mengingat pasar di Indonesia masih underpenetrated untuk produk perbankan dan produk keuangan lainnya. Apalagi, terus meningkatnya penetrasi smartphone di Indonesia,” tulisnya dalam riset terbaru.

Allo Bank dan Bank Jago, menurut dia, dua nama dari beberapa saham bank digital dengan prospek pertumbuhan yang tetap pesat ke depannya. Diproyeksikan, peningkatan kredit gabungan kedua bank tersebut mencapai 94% pada 2022 dan mencapai 42% pada 2023, meskipun lonjakannya tidak sebesar tahun 2021 yang mencapai 258%. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis