Bisnis
Seiring Pelemahan Dolar AS, Rupiah Menguat, Investor Alih Fokus ke Data Inflasi AS
BISNISREVIEW.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (13/1/2022) menguat seiring dengan pelemahan dolar AS setelah lonjakan inflasi. Rupiah menguat pada perdagangan pasar spot hari ini, setelah melemah 0,1% kemarin.
Pada Kamis (13/1/2022), US$ 1 dibanderol Rp 14.305 di pasar spot. Rupiah menguat 0,07% dibandingkan dengan penutupan perdagangan Rabu (12/1/2022).
Pengamat Ekonomi Nasional, Hardi Fardiansyah menilai penguatan nilai tukar rupiah itu dipicu oleh pelemahan dolar AS yang saat ini mengalami Inflasi. Karena itulah, kata Hardi, investor mengalihkan fokus mereka ke data inflasi AS.
“Saat ini investor mengalihkan fokus mereka ke data inflasi AS. Tujuannya untuk petunjuk kenaikan suku bunga AS setelah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell menetapkan nada yang kurang hawkish dan menegaskan bahwa bank sentral akan mengatasi inflasi,” kata Hardi dalam keterangan tertulisnya diterima Bisnisreview.Com, Kamis (13/1/2022).
Hardi menyebut, data inflasi AS naik 7 persen ini merupakan, level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Hal itu, menurut Hardi, dapat membuat dolar AS yang akhirnya menjadi tertekan.
“Dari sisi internal, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mencatat harta bersih yang dilaporkan dalam Program Pengungkapan Sukarela (PPS) naik Rp350 miliar dalam sehari menjadi Rp1,39 triliun dari Rp1,04 triliun, per 10 Januari 2022. Nilai tersebut terdiri atas laporan harta bersih dalam negeri dan repatriasi sebesar Rp1,19 triliun, harta yang diinvestasikan dalam Surat Berharga Negara sebesar Rp73,65 miliar, dan harta di luar negeri sebesar Rp129,48 miliar,” jelas dia.
Atas penguatan nilai tukar rupiah tersebut, Hardi berharap mata uang garuda ini bisa kembali stabil. Menurut dia, stabilitas rupiah itu tergantung pada cara dan sistem pengelolaan kurs rupiah oleh bank sentral Indonesia.
“Bank Indonesia (BI) yang merupakan bank sentral ini sejatinya dikelola secara profesional, teratur dan sistematis agar tercapai tujuan negara dalam mengembalikan stabilitas mata uang kita,” ujarnya.
Meneruskan penjelasan pelemahan dolar Amerika Serikat tersebut, Hardi mengatakan, saat ini The Fed membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memutuskan penurunan neraca US$9 triliun.
“Saya kira The Fed membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memutuskan penurunan neraca US$9 triliun, selain itu, juga akan memastikan inflasi yang tinggi tidak terlalu kuat,” terangnya. (BR/Arum)