Bisnis
Sagu Memiliki Potensi Besar Diharapkan Mampu Meningkatkan Nilai Tambah Bagi Masyarakat dan Bangsa
BISNISREVIEW.COM – Sebetulnya banyak bentuk produk turunan sagu. Seperti glukosa dan dextrin. Glukosa sendiri dihasilkan dari pemanfaatan pati dan dapat dimanfaatkan untuk jadi ethanol sebagai bahan pengganti fossil fuel dan fruktosa yang bisa dipergunakan dalam industri makanan minuman. Selain itu glukosa dapat juga dijadikan asam organik untuk industri kimia dan farmasi, serta sektor energi.
Ekonom Nasional Hardi mengatakan bahwa sagu sebagai bagian penting dan strategis bagi ketahanan pangan nasional. Untuk itu, tambah dia, pemerintah perlu mendukung dan menfasilitas kegiatan masyarakat tani khususnya petani sagu.

Tepung sagu dari olahan UKM
“Sagu memiliki potensi yang paling besar untuk digunakan sebagai pengganti beras. Maka itu, Hilirisasi produk sagu diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat dan juga bangsa. Nilai tambah juga bagi penyerapan tenaga kerja, peningkatan potensi pajak dan pendapatan asli daerah yang pada akhirnya akan tingkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut,” kata Hardi dalam keterangan tertulisnya, dikutip bisnisreview.com, Senin (13/2/2023).
Sagu, menurut Hardi dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan bangsa. Manfaat sagu dari sisi bisnis misalnya bahan tepung sagu. Bahan ini, kata Hardi, dapat menghasilkan polimer terbaik guna membuat plastik yang bisa terurai atau plastik yang mudah hancur di alam.
“Pati sagu dalam industri digunakan sebagai bahan perekat. Pati sagu juga dapat diolah menjadi alkohol. Yang digunakan untuk campuran bahan bakar mobil, spiritus dan campuran lilin. Selain itu dapat juga digunakan untuk makanan ternak, bahan pengisi dalam industri plastik, diolah menjadi protein sel tunggal, dekstrin ataupun siklodekstrin untuk industri pangan, kosmetik, farmasi, pestisida dan lain-lain,” beber Hardi.
Soal penghasilan produksi sagu, Hardi menjelaskan, dalam siklus produksi dikenal adanya Input, proses, output. Dari sisi pendapatan yang rendah tentu akan menjadi pertanyaan faktor-faktor apa yang menyebabkan pendapatan petani sagu sehingga pendapatan rendah. Dari sisi input apakah ada peralatan yang kurang sehingga ketika memproduksi sagu menjadi rendah. Dari sisi proses apakah sudah tersentuh oleh adanya teknologi. Dari sisi output bagaimana hasil produksi dapat didistribusi.
“Hal-hal ini tentu akan memiliki pengaruh mempengaruhi kaitannya dengan pendapatan. Pohon sagu memiliki nilai ekonomis tinggi. Satu pohon sagu jika dijual dengan harga Rp. 800.000,- ribu. Dan dalam satu hektare ada 100 pohon. Maka tanpa ada sentuhan apapun sudah memiliki nilai Rp. 80.000.000. Tetapi jika diolah tentu akan memiliki nilai yang lebih tinggi lagi. Maka dari sisi nilai ekonomi satu pohon sagu tetunya sudah merupakan asset pendapatan bagi keluarga,” paparnya.
Terkait tanaman sagu, Hardi mengatakan pemanfaatan sagu ini juga sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo dalam melakukan pembangunan Indonesia melalui wilayah pinggiran. Di mana 50,33 persen total tanaman sagu berada di tanah Papua, sehingga pemerintah telah jadikan program peningkatan pengelolaan sagu nasional sebagai salah satu program prioritas.
“Banyak yang tidak memahami, mengetahui bahwa pemerintah sudah masukan program sagu dalam rencana pembangunan jangka menengah 2020-2024,” katanya. (BR/Arum)