Connect with us

Bisnis

Ekonomi AS Tangguh Setelah Pengumuman Data-Data Makro, Rupiah Melemah

Rupiah melemah

BISNISREVIEW.COM – Mata uang rupiah berisiko melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (17/2/2023), akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Berbeda dengan dolar AS, rupiah justru menunjukkan pelemahan terhadap tiga mata uang global, yakni dolar Australia, euro, dan poundsterling.

Pada Kamis (16/2/2023) rupiah ditutup menguat 0,31 persen atau 47 poin ke Rp15.159 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak di zona merah, turun 0,27 persen ke 103,64.

Selain itu, sejumlah mata uang di Asia juga terpantau menguat seperti yen Jepang menguat 0,28 persen, dolar Singapura menguat 0,16 persen, dolar Taiwan menguat 0,06 persen, peso Filipina menguat 0,15 persen, dan baht Thailand menguat 0,07 persen.

Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia Lionel Priyadi mengatakan sebagian besar pasar keuangan diliputi dengan sentimen positif setelah pengumuman data-data makro dirilis di antaranya penjualan ritel di AS tumbuh lebih tinggi dibanding ekspektasi yang menunjukan ketangguhan ekonomi domestik negara Paman Sam.

Selain itu, tingkat inflasi di Inggris bergerak lebih rendah dari perkiraan dan data aktual periode sebelumnya yang mengindikasikan bahwa tekanan harga mungkin sudah melewati titik puncaknya dan akan melandai kedepannya.

“Penjualan ritel yang kuat di AS kembali mempertebal ekspektasi bahwa The Fed dapat saja menaikan bunga acuannya sampai ke level 5,50 persen atau lebih tinggi daripada target terminal rate saat ini di 5,25 persen. Karenanya, imbal hasil UST 10Y kembali bullish dengan naik 7bps ke 3.81 persen tertinggi sejak akhir tahun lalu,” jelasnya dalam riset, Kamis (16/1/2023).

Di lain sisi, pelaku pasar domestik masih mencerna langkah Bank Indonesia yang menahan kenaikan bunga acuan di level 5,75 persen untuk saat ini, di tengah tekanan eksternal. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis