Bisnis
Rupiah Diprediksi Berfluktuasi dan Akan Melemah, Ekonom: Soal Kebijakan Suku Bunga The Fed
BISNISREVIEW.COM – Nilai tukar rupiah diprediksi berfluktuasi, tetapi akan ditutup melemah pada perdagagan hari ini, Jumat (24/2/2023).
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat 0,05 persen atau naik 8 poin ke level Rp15.192 pada penutupan perdagangan Kamis (23/2/2023), di tengah melemahnya indeks dolar AS sebesar 0,17 persen ke 104,41.
Mengutip Bloomberg pada pukul 09.04 WIB, rupiah di pasar spot bergerak ke level Rp 15.208 per dolar AS. Rupiah melemah 0,10% dari penutupan perdagangan kemarin di level Rp 15.192 per dolar AS.
Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menyebut, pangkal dari pergerakan rupiah terhadap dolar AS masih soal kebijakan suku bunga The Fed.
“Perubahan kebijakan akan menimbulkan capital flight dan juga pelemahan perekonomian global,” ujar dia.
Pada hari ini, Reny memperkirakan rupiah akan bergerak di Rp 15.150 – Rp 15.245.
Sebelumnya Direktur PT Laba Forexindo Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar melemah akibat pasar yang memanas dengan kemungkinan The Fed yang tetap agresif dalam menaikkan suku bunga. Terlebih lagi risalah pertemuan memperkuat sinyal hawkish the Fed untuk kebijakan moneter.
Tanda-tanda ketahanan ekonomi seperti PDB AS yang akan rilis memberi the Fed banyak ruang untuk menaikkan suku bunga. Selain itu, pembacaan aktivitas bisnis yang lebih kuat dari perkiraan melanjutkan sinyal hawkish.
“Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi untuk bulan Januari juga akan dirilis pada hari Jumat, dan diperkirakan akan menegaskan kembali bahwa inflasi tetap kaku sepanjang bulan,” ujar Ibrahim dalam riset, Kamis (23/2/2023).
Kemudian, rilisnya inflasi Eropa dan Jepang pada pekan ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa tekanan harga tetap tinggi di seluruh dunia. Hal ini kemungkinan memunculkan kondisi moneter yang lebih ketat.
Dari dalam negeri, pasar merespon positif surplus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp90,8 triliun atau setara dengan 0,43 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada Januari 2023.
“Hal tersebut karena surplus kas negara pada bulan lalu jauh lebih tinggi dari surplus APBN pada Januari 2022 yang mencapai Rp29,6 triliun dan dari Januari 2021 yang mencatat defisit senilai Rp45,5 triliun,” katanya. (BR/Arum)