Bisnis
Dipicu Sentimen dari Negeri Paman Sam, Rupiah Menguat di Level Rp 14.687
BISNISREVIEW.COM – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot antar bank Jakarta, di awal perdagangan hari ini. Jumat (14/4/2023), rupiah spot dibuka di level Rp 14.687 per dolar AS.
Ini membuat rupiah menguat 0,41% dibandingkan dengan penutupan Kamis (14/4/2023) yang berada di Rp 14.746 per dolar AS.
Penguatan juga dicatatkan kurs tengah Bank Indonesiab (BI) atau Jisdor. Pada Kamis kemarin, dollar AS berdasarkan Jisdor setara dengan Rp 14.792, lebih rendah dari Rabu (12/4/2023) sebesar Rp 14.866 per dollar AS.
Hingga pukul 09.00 WIB, mayoritas mata uang di kawasan menguat. Di mana, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,82%.
Selanjutnya, peso Filipina yang terkerek 0,35% dan ringgit Malaysia yang menguat 0,32%. Disusul, yuan China yang menanjak 0,29%.
Berikutnya, dolar Taiwan yang naik 0,19% dan yen Jepang yang menguat 0,11% pada perdagangan pagi ini.
Sementara itu, dolar Singapura menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di Asia setelah koreksi 0,19%. Diikuti, baht Thailand yang turun 0,1%.
Kemudian, dolar Hongkong terlihat melemah tipis 0,001% terhadap the greenback.
Analis sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah selaras dengan dollar AS yang diperdagangkan pada level terendah selama dua bulan terakhir. Hal ini dipicu oleh sejumlah sentimen dari Negeri Paman Sam.
Rilis inflasi AS periode Maret lalu. Tercatat pada Maret inflasi AS secara bulanan hanya mencapai 0,1 persen dan secara tahunan sebesar 5 persen, lebih rendah dari proyeksi pasar.
“Angka-angka ini kemungkinan berarti bahwa Federal Reserve menaikkan suku bunga lagi bulan depan,” kata Ibrahim, dalam risetnya, dikutip Jumat (14/4/2023).
Selain itu, pelemahan dollar AS juga dipicu oleh risalah pertemuan pejabat The Fed. Dalam risalah tersebut, para pejabat bank sentral AS mengungkapkan adanya potensi “resesi ringab” pada pengujung tahun 2023, imbas dari kekhawatiran guncangan sektor perbankan.
“Dalam risalah pertemuan Maret Fed menunjukkan bahwa pembuat kebijakan sedang mempertimbangkan jeda dalam kenaikan suku bunga,” katanya. (BR/Arum)