Connect with us

Bisnis

Ekonom: Indonesia Perlu Waspada Terhadap Ekonomi Cina yang Negatif dan Tensi Geopolitik Rusia-Ukraina

Pengamat ekonomi dan hukum nasional, Hardi Fardiansyah

BISNISREVIEW.COM – Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan dari pertumbuhan ekonomi Cina yang negatif serta tensi geopolitik Rusia-Ukraina memperparah gejolak harga di seluruh dunia.

Ekonom dan Pengamat Hukum Nasional, Hardi Fardiansyah menghimbau agar Indonesia tetap waspada terhadap ekonomi Cina dan geopolitik Rusia-Ukraini. Hal itu diwaspadai, tambah Hardi, sebab dampaknya akan terasah di Indonesia.

“Saya berharap agar semua pihak dapat membantu pemerintah menjaga kekuatan ekonomi kita, agar tetap stabil dan program pemulihan ekonomi nasional kita bisa tercapai,” kata Hardi kepada Bisnisreview.com, Senin (1/8/2022).

Baca Juga: https://bisnisreview.com/anny-sofia-harap-adik-kandung-habil-marati-segera-mengembalikan-uang-pinjamannya/

Hardi mengungkapkan, ekonomi Indonesia saat ini terdampak buruk atau konflik kedua negara itu, karena inflasi tinggi yang terjadi di AS, Eropa, dan Inggris saat ini. Hal tersebut membuat bank sentral negara-negara itu mengetatkan likuiditas dan meningkatkan suku bunga.

“Saya ingin menyampaikan bahwa kalau kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global terjadi,”tandasnya.

Jadi, walaupun perangnya di Eropa, namun, kata Hardi, dampaknya ke seluruh dunia. Krisis pangan, energi terjadi. Karena Rusia produsen energi yang termasuk terbesar di dunia. Dan Ukraina-Rusia produsen pangan terbesar pangan di dunia, termasuk pupuk,” ujarnya.

“Maka dalam inflasi yang muncul karena pemulihan ekonomi tidak diikuti supply, ditambah disrupsi perang, dunia tidak baik-baik saja. Inflasi di berbagai negara melonjak tinggi”.

Secara definisi, AS sudah masuk ke dalam resesi dengan mencatatkan pertumbuhan negatif dua kali berturut-turut selama dua kuartal di tahun yang sama. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II-2022 kontraksi atau negatif 0,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pada kuartal I-2022 yoy, pertumbuhan pun tercatat negatif sebesar 1,6%.

Untuk China pada kuartal II-2022, pertumbuhan ekonominya mengalami penurunan 0,4% dari pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 2,5%. Pertumbuhan itu di bawah prediksi pasar 5,5%. Ekonomi yang melemah di dua negara tersebut membuat Sri Mulyani waspada.

“Hari ini Anda baca berita, AS negatif growth Kuartal II, technically masuk resesi. RRT (China) seminggu lalu keluar dengan growth Kuartal II yang nyaris 0,” jelas Hardi.

Meski capaian ekonomi Indonesia terbilang tangguh, pria yang juga berprofesi sebagai motivator ini tak mau jumawa. Tercatat APBN Surplus di bulan Juni sebesar Rp 73,6 triliun atau 0,39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kita tahu situasi masih cair dan dinamis. Berbagai kemungkinan bisa terjadi dengan kenaikan suku bunga, capital outflow terjadi di seluruh negara berkembang dan emerging, termasuk Indonesia, dan bisa mempengaruhi nilai tukar, suku bunga, dan inflasi di Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hardi mengatakan bahwa berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II-2021 mengalami peningkatan hingga 7,07 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Ekonomi Indonesia triwulan II-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 3,31 persen (quartal-to-quartal) dari triwulan sebelumnya. Peningkatan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2021 terutama didorong oleh peningkatan kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Perbaikan ekonomi ini menunjukkan bahwa Indonesia berhasil bangkit setelah mengalami tekanan selama beberapa triwulan terakhir akibat Covid-19,” paparnya. (BR/Arum)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis