Pertanian
Potensi Sagu Luar Biasa, Prof Bintoro Sambut Baik Expo Sagu Internasional
BISNISREVIEW.COM – Expo Sagu Internasional adalah inisiasi Koperasi Tasnin Asia Galilia. Koperasi yang dinahkodai Parlindungan Harahap atau Opung Harahap.
Opung mengatakan, persiapab untuk kegiatan Expo Sagu Internasional ini akan dihelat bulan Juni tahun ini dan bertempat di Bogor, Jawa Barat.

“Karena kegiatan ini akan dilaksanakan secara Internasional, maka kami akan mengundang negara-negara dunia untuk menjadi tamu undangan. Dan Indonesia pertama kali sebagai tuan rumah Expo Sagu Internasional,” kata Opung kepada Bisnisreview.com, Jumat (27/1/2023).
Hal itu, kata Opung adalah suatu strategi marketing untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Bila sudah tercapai, tambah dia, maka masyarakat Indonesia bahkan dunia bisa beralih mengonsumsi sagu sehingga tidak ada ketergantungan kepada beras semata.
“Program kami ini memang sejalan dengan program Prof. Bintoro sebagai ahli sagu. Sehingga dia merespon kegiatan yang kami gagas ini,” jelas Opung.
Prof. Bintoro pun mengaku bahwa dirinya sangat merespon kegiatan Expo Sagu Internasional sehingga dapat bersenegi dengan Koperasi Tasmin Asia Galilea.

Prof. Bintoro mengatakan, potensi sagu sangat luar biasa. Ia menjelaskan, Indonesia merupakan penghasil sagu terbesar di dunia. Potensi sagu Indonesia seluas 5,4 juta hektare area (ha). Ternyata, potensi sagu Indonesia mencapai lebih dari 80 persen potensi. Sementara pertanian sagu dunia 6,7 juta ha.
“Sudah dilakukan pengecekan dan tanaman sagu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif dan bahan baku bioenergi,” kata Bintoro dalam tulisannya dikutip Bisnisreview.com hari ini.
Sagu, Menurut Bintoro, merupakan substitusi pangan pengganti beras karena sagu menghasilkan pati kering sebagai sumber karbohidrat. Kemudian sebagai bahan baku bioenergi, sagu dapat diolah menjadi bioetanol dan dijadikan fiber.
“Namun sayangnya, potensi ini belum dikelola dengan baik. Kebutuhan pangan masyarakat Indonesia masih banyak menggantungkan konsumsi makanan pokok lain, seperti beras dan gandum. Padahal, komoditas beras dan impor sering kali dipenuhi dari impor,” katanya.
Hingga saat ini, pengembangan tanaman sagu juga masih sedikit dan lebih memilih fokus pada swasembada komoditas beras, daging, jagung, kedelai, hingga gula. Selain itu, ia melanjutkan, belum banyak industri yang mengolah sagu, baik sebagai bahan pangan maupun energi.
“Padahal, potensi sagu sedemikian melimpah. Tentu potensi yang besar ini jangan disia-siakan karena secara ekonomi pasti menguntungkan,” ujarnya..
Diakuinya, untuk mengubah budaya mengonsumsi beras ke pangan lain termasuk sagu tidaklah mudah. Demikian juga, dengan kebutuhan energi yang masih menggantungkan pada bahan bakar fosil yang persediaannya semakin terbatas dan mahal.
Prof menambahkan, kendala lain pengembangan sagu, yakni harganya yang lebih mahal dibandingkan beras di beberapa tempat seperti Maluku. Padahal, katanya, harga sagu seharusnya di bawah harga beras.
“Oleh karena itu, ini harus dikaji dan perlu kebersamaan semua pihak untuk mengembangkan sagu untuk pangan dan energi nasional,” tandasnya. (BR/Arum)