Connect with us

Bisnis

PT Tira Austenite Tbk Gelar RUPS 2024 Dengan Perolehan Laba Bersih Sebesar 1,2 M Menurun dibanding Tahun Lalu

BISNISREVIEW.COM, Jakarta — PT. Tira Austenite Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Kamis (27/6/2024) di Jakarta yang dihadiri oleh Presiden Direktur PT Tira Austenite Selo Winardi, Soeseno Adi dan Totok Indratno.

Perseroan Terbatas (PT) Tira Austenite Tbk memaparkan hasil kinerjanya sepanjang tahun 2023 hingga tahun 2024, serta kinerja perseroan sampai dengan kuartal 1 tahun 2023. dan proyeksi kinerja dan rencana strategis perseroan tahun 2024.

Dalam pemaparan kinerjanya Perseroan Perusahaan manufaktur dan distribusi PT Tira Austenite Tbk. melaporkan peroleh laba bersih sebesar 1,2 Milliar, menurun dibanding Tahun Lalu, serta penjualan sampai dengan kuartal 1 2024 turun dibandingkan dengan penjualan kuartal 1 2023, penyebabnya adalah keterbatasan supply barang di Divisi Steel dimana Surat Persetujuan Import (SPI) Tira baru bisa di dapatkan di 24 April 2024 dan efektif digunakan mulai Mei 2024 ini.

Hal tersebut diutarakan oleh Direktur PT Tira Austenite Tbk Toto Indratno dalam siaran pers Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan dan paparan publik di kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (27/6/2024).

Toto Indratno menyampaikan PT Tira Austenite Tbk (TIRA) mengalami koreksi kinerja yang cukup dalam, hal itu dikarenakan adanya kebijakan larangan impor barang-barang yang masuk dalam kategori lartas (larangan dan pembatasan) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No28/2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perindustrian.

Aturan tersebut membuat importir pemegang izin Angka Pengenal Importir Umum (API-U) menjadi kesulitan untuk melakukan importasi.

Pada 2023, TIRA membukukan penjualan Rp259 miliar atau lebih sedikit dibandingkan pada 2022 sebesar Rp285 miliar. Hal itu membuat laba bruto perseroan juga menurun pada 2023 sebesar Rp93 miliar sementara pada 2022 mencapai Rp98,7 miliar.

“Secara konsolidasi tahun 2023, perseroan mengalami penurunan penjualan Rp25,2 miliar atau sebesar 8,9%. Hal itu didominasi pada penurunan penjualan di divisi baja yang mengalami penurunan penjualan hingga 22% bila dibandingkan di tahun sebelumnya.

Presiden Direktur PT Tira Austenite Selo Winardi menyebutkan bahwa bahan baku yang dibutuhkan perseroan memang tak bisa disubtitusi dengan produk lokal. Menurunya, importasi yang dilakukan Perseroan untuk menjaga mutu dan kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan.

“Memang yang kita impor itu memiliki spesifikasi khusus. Kalau pakai produk lokal membuat downtime nya lebih cepat sehingga nanti yang dirugikan juga pengguna produk,” jelasnya.

Meski kinerja di divisi steel menurun, tetapi divisi lain yakni divisi gas dan manufaktur mencatatkan kenaikan. Divisi Gas bisa mencapai kenaikan penjualan Rp15,5 miliar atau naik 20,3%. Kemudian divisi manufaktur juga mampu menaikkan penjualan dari tahun sebelumnya sebesar Rp979 juta atau naik 4,7%.

“Tahun ini kami targetkan penjualan divisi gas tumbuh 20% atau Rp100 milliar(yoy) dan divisi manufacturing tumbuh 17% (yoy),” jelasnya.

Totok menambahkan bahwa pertumbuhan penjualan divisi gas 2023 selain dampak upaya perbaikan supply chain juga beberapa produk utama mengalami pertumbuhan bisnis diantaranya Oxygen, Karbon Dioksida dan Acetylene. Selain itu beberapa kontrak dan project baru juga membantu pertumbuhan Divisi Gas di sepanjang tahun 2023.

Sementara, pertumbuhan bisnis Divisi Manufaktur 2023 selain di dorong dari sisi internal dengan perbaikan fasilitas produksi, juga kepercayaan dari beberapa Perusahaan pertambangan yang mengganti beberapa spare part OEM ke produk Alpha Austenite. Selain itu sektor Semen dan Industri pangan juga cukup bagus pertumbuhannya dengan didapatkannya kontrak-kontrak Welding Electrode yang cukup menarik.

Progres yang baik pada 2023 berlanjut di tahun ini. Divisi Gas pada 2024 mampu mendapatkan beberapa project untuk non existing product di Power Plant maupun Oil dan Gas, selian itu peningkatan kebutuhan CO untuk project di Morowali dan beberapa kontrak di sektor Rumah Sakit, Semen , Oil & Gas maupun Mining akan menjadi fokus untuk menjaga dan meningkatkan kinerja pada 2024.

Namun, untuk Divisi Manufaktur kinerja di Q1 masih belum maximal seiring dengan penurunan permintaan dari beberapa pelanggan utama. Diharapkan di Q2 permintaan sudah Kembali normal, ditambah beberapa pengembangan pasar akan terus dilakukan khususnya di sektor pertambangan, semen dan industri pangan. (BR/Red)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bisnis