Pertanian
Sagu Sebagai Makanan Memiliki Banyak Manfaat, Prof. Bintoro: Jadikan Sagu Sebagai Tanaman Straregis
BISNISREVIEW.COM – Luas lahan sagu di Indonesia mencapai 5,5 juta hektar. Sekitar 4,5 juta hektar ada di Papua dan 0,5 juta hektar di Papua Barat.
Sayangnya, pemanfaatan sagu di Indonesia belum mencapai 10%. Padahal, memanfaatkan sagu bisa mengurangi impor beras, gandum, dan gula.
Sejalan dengan itu, Prof. Bintoro,
Guru Besar Departemen Agronomi dan Holtikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) dan juga Ketua Umum Masyarakat Sagu Indonesia (MASSI) mengatakan, gizi sagu cukup baik, bahkan tidak mengandung gluten. Glikemik rendah, sangat baik untuk kesehatan.
“Untuk itu, saya minta perlu adanya kerja sama banyak pihak untuk menjadikan sagu sebagai tanaman strategis,” kata Prof. Bintoro dalam tulisannya, dikutip Bisnisreview.com, Senin (16/1/2023).
Bintoro menilai tumbuhan sagu cocok hidup di gambut karena karakter lahan ini menyimpan banyak air. Gambut berfungsi menyimpan air dan menyerap karbon.
“Sagu sebagai makanan dan memiliki banyak manfaat lain. Menanam sagu jadi salah satu cara mempertahankan ekosistem gambut,” terangnya.

Tepung sagu
Pengembangan sagu sebagai bahan pangan terus dilakukan. Menurut Bintoro, Saat ini sudah ada produksi sagu jadi beragam pangan, antara lain, mie, kue, pempek, lontong, beras, dan gula dengan bahan dasar sagu. Bahkan sudah ada papeda instan dan kapurung instan.
“Saat ini sudah ada produksi sagu jadi beragam pangan, antara lain, mie, kue, pempek, lontong, beras, dan gula dengan bahan dasar sagu. Bahkan sudah ada papeda instan dan kapurung instan,” sebutnya.
Dia bilang, gambut adalah lahan organik yang bisa menyimpan air dalam jumlah sangat besar. Satu ton gambut bisa menyimpan 10 ton air. Gambut memiliki kedalaman beragam antara dari satu sampai 10 meter. Gambut kedalaman lebih tiga meter sebagai area konservasi.
Sebagai lahan organik, gambut bisa untuk pertanian dengan tanaman yang sesuai. Salah satu tanaman paling cocok adalah sagu. Sagu perlu tanah lembab untuk tumbuh. Dengan menanam sagu, kandungan air pada lahan gambut tidak perlu dikeluarkan. Mengeluarkan air dari gambut berdampak pada penurunan muka gambut hingga lahan kering dan mudah terbakar.
“Kalau sagu dipertahankan di gambut, kita akan mengkonservasi, kita akan mengawetkan tanah itu dan mencegah kerusakan,” katanya, dalam kuliah umum bertema Menanam Sagu di Lahan Gambut, Potensi dan Tantangan Pengembangannya, yang diadakan Badan Restorasi Gambut (BRG).
Terkait adanya upaya pengembangan sagu sebagai ketahanan pangan dunia, Maka Koperasi Tasmin Asia Galilea akan melaknanakan sebuah acara dengan nama Expo Sagu Internasional.
Acara Expo Sagu Internasional ini akan dihelat bulan Juni 2023 di gedung putih Tioma Bogor, Jawa Barat.
Ketua Panitia Pelaksana Parlindungam Harahap mengatakan melalui kegiatan ini pihaknya terus mensosialisasikan Sagu baik nasional maupun internasional.
Parlindungan berharap, melalui Expo Internasional ini, masyarakat Indonesia beralih ke konsumsi Sagu sebagai makanan pokok, sebagai gantinya beras.
“Beras dengan kadar gula yang tinggi maka akan berpotensi terkena serangan penyakit diabetes. Atas dasar itulah saat ini tidak sedikit masyarakat Indonesia yang mulai mengurani konsumsi beras, dengan harapan agar terhindar dari penyakit diabetes,” kata Parlindungan, Senin (16/1/2023).
Terbukti, data dari International Diabetes Federation pada 2017 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 negara dengan jumlah orang dengan diabetes. “Jadi sagu ini bisa menjadi bahan makanan pengganti beras,” kata pria yang akrab disapa Opung.
Menurut Opung, makanan sagu dapat menggantikan makanan pokok lainnya. Sebab, di dunia ini memang ada kecenderungan kelangakaan pangan. Sebab sumber daya alam mulai terbatas.
“Melihat hal tersebut, maka sagu bisa juga dijadikan sebagai sumber pangan lainnya. Sehingga dengan membuka atau menciptakan pasar sagu, sama saja dengan mengangkat potensi petani dan membuka pasar ekonomi baru ke luar negeri,” tuturnya.
Dengan demikian, ia berharap agar pemerintah dapat mendukung program Expo Sagu Internasional yang kami gagas ini. (BR/Arum)