Connect with us

Industri

Sebuah Usulan Menyikapi Longsor Oprit di Jembatan Ratahaya, Kabupaten Taliabu

Ir. Burhanuddin Abdul adalah Super Structure Pro-B (Ahli Jembatan) pada Concortium Consultant Management OCG- JRIS LRT Jabodebek Project Jakarta.

Oleh Ir. Burhanuddin Abdul

Jembatan Ratahaya terletak pada akses utama tranportasi orang barang dan jasa dari desa Bobong sebagai Ibu Kota Kabupaten menuju desa Ratahaya, PDAM dan RSUD Kabupaten Pulau Taliabu.

Jembatan tersebut adalah Tipe box culvert beton bertulang bentang pendek, dengan perkiraan panjang bentang 2 meter sampai dengan 3 meter.

Longsor yang terjadi pada oprit tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran Jembatan itu sendiri, karena terjadi pada kedua sisi dan selebar Jembatan tersebut dengan kedalaman Longsor sampai pada dasar Box Culvert. Akibat longsor tersebut otomatis mobilitas masyarakat menjadi terganggu. mobilitas orang, barang dan jasa terkhusus aktifitas pelayanan kesehatan menuju rumah sakit. Hal ini bisa berdampak buruk, bila ada Emergensi pada pasien yang harus menggunakan mobil Ambulance.

Jembatan box culvert tersebut di bangun sekitar tahun 2017, itu berarti jembatan telah berumur 4 tahun. Secara Teknis Umur rencana dalam perencaan jembatan adalah 75 Tahun, Maka umur 4 tahun adalah umur yang masih sangat muda.

Melihat kejadian longsor ini lewat media online tentu saya sebagai Putra Taliabu dengan latar belakang Pendidikan Teknik Sipil langsung putar otak, berpikir dan muncul beberapa pertanyaan:

1. Apa penyebab tanah longsor pada kedua sisi oprit Jembatan Ratahaya ?

2. Apakah banjir yang menjadi Penyebab utama longsor ?

3. Atau ada penyebab lain yg bisa di identifikasi ?

Kenapa kita perlu mencari tahu atau mengindentifisi masalah teknik penyebab tanah longsor pada area oprit tersebut? Karena dengan mengetahui penyebab teknik tersebut maka Solusi Teknik yang akan diusulkan akan TEPAT AMAN dan TUNTAS.

Tahapan indentifikasi masalah sebagai berikut:

Tahap 1 : Pengumpulan Data (Sumber Foto dari Media online, Whats App dan Foto aktual dari rekan-rekan media) dengan hasil data foto yang terkumpul tertuang dalam tabel sebagai berikut:

 

Jembatan yang rusak

ANALISIS PENYEBAB

Dari analisis foto-foto lokasi maka Catatan penting informasi teknik sebagai berikut:

1. Struktur beton bertulang Box culvert masih stabil dan kuat.

2. Kemungkinan terjadi penurunan secara bersamaan pada Box Culver 10 sd 30cm dari Posisi sebelum longsor ( Indikatornya Foto View-A2, View-B1 dan View C1).

3. Adanya gap atau celah yang cukup besar pada sisi bawah wing wall sehingga tanah bisa keluar dari area Oprit ke luar melalui bawah Wing Wall. (Level bawah wing wall kurang turun seharusnya Level bawah wing wall Selevel dengan dasar Pondasi Box Culvert).

4. Wing wall atau DPT (Dinding Penahan Tanah) ada gap yang cukup besar di sisi bawah sehingga tanah timbunan dengan jenis pasir akan keluar melalui celah ini akibat dead load (beban mati) Tanah itu sendiri, akibat live load / Beban T dan D (Beban Kendaraan) yang melintasi jalan tersebut maupun tekanan air maksimum saat banjir yang bisa mencapai 2Ton sampai dengan 3 Ton tekanan Air pada sisi bawah bila tinggi muka air banjir naik 2m sd 3m dari dasar tanah.

5. Tidak adanya Pelat Injak beton bertulang pada ke dua sisi oprit untuk mendistribusikan beban hidup sehingga efek ke sisi bawah tekanannya akan berkurang.

6. Tidak ada dinding penahan tanah dan pengarah air yg terbuat dari batu kali, sementara wing wall tegak lurus terhadap arah datang Tekanan air saat banjir Efek gaya maksimum dan ada tambahan gaya Turbulensi.

Dari analisis terhadap dokumen foto yang saya terima dan Catatan Teknis di atas maka saya menilai penyebab tanah longsor adalah :

1. Elevasi atau level wing wall beton kurang turun segingga ada celah sebagai jalan keluar timbunan pasir pada area oprit.

2. Tidak ada Pondasi pengarah air saat banjir di sisi luar wing wall, biasanya terbuat dari bantu kali.

3. Bila Item 1 & 2 direncanakan dan dilaksanakan dengan metode kerja yan benar dan mengacu ke spesifikasi teknik dan syarat maka Longsor pada oprit tidak akan terjadi.

4. Plat Injak tidak ada pada area Oprit, Pelat injak berfungsi mengurangi distribusi beban Kendaraan pada area Oprit bila tidak ada Pelat injak maka tengan tanah yang terjadi akan lebih besar dan menambah cepatnya tanah lonsor.

5. Banjir adalah salah satu variable gaya Hydrostatic sebagai beban Hidup yang diperhitungkan bekerja pada semua tinjauan struktur Box Culver, wing wall dan dinding penahan tanah & pengarah banjir.

Lokasi yang sama

USULAN SOLUSI

Solusi Teknis yg di usulkan sebagai Solusi Teknis mengatasi tanah Longsor pada arae Oprit

adalah sebagai berikut :

1. Isi timbunan oprit dengan batu rijang atau batu kali minimal setinggi 50cm dari level bawah wing wall dal leber dari Pinggir Minimal 2,5m bila tinggi banjir 2m.

2. Timbun Tanah di atas batu setebal 20cm untuk perataan kemudian Pasang lembaran geotextile atau Terpal di atas batu sebelum di timbun tanah ke level akhir.

3. Pemadatan di sarankan layer per layer dengan ketebalan 1 layer 30cm sd. 50cm dan menggunakan baby roller atau stamper kuda.

4. Sisi luar wing wall pasang cerujuk kelas kayu keras/dolken 5cm atau 7cm sejarak 30 cm buat Ukuran Kotak selebar 1m sepanjang celah box culvert ke tepi pada area bawah wing wall dan isi dengan karung berisi pasir yg berfungsi sebagai Cover dump.

5. Setelah Musim panas segera dibuat dinding pengarah banjir dari material pasangan batu kali pada kedua sisi wing wall.

Demikian Tinjauan teknis dan solusi sebagai konsep penyelesaian mengatasi tanah longsor

pada kasus longsornya oprit Jembatan Ratahaya menuju RSUD Kabupaten Pulau Taliabu. Semoga bermanfaat.

Profil Singkat Penulis: Ir. Burhanuddin Abdul adalah Super Structure Pro-B (Ahli Jembatan) pada Concortium Consultant Management OCG- JRIS LRT Jabodebek Project Jakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Industri