Bisnis
Sektor Jasa AS Meningkat, Rupiah Fluktuasi, Mayoritas Mata Uang Kawasan Asia Menguat
BISNISREVIEW.COM – Saat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga lebih awal oleh The Fed, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berfluktuasi namun akan ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (7/2/2024).
Mayoritas mata uang kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS, misalnya, yen Jepang naik 0,09%, dolar Singapura menguat 0,14%, dolar Taiwan menguat 0,12%, won Korea naik 0,26%, dan peso Filipina naik 0,15%.
Selanjutnya, yuan China naik 0,09%, baht Thailand naik 0,37%, dan rupee India naik 0,03%. Sedangkan mata uang yang melemah yaitu ringgit Malaysia turun 0,26%, dan dolar Hongkong turun tipis 0,01%.
Baca Juga: Rupiah Terkoreksi di Tengah Penguatan Dolar AS
Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan Institute for Supply Management (ISM) mencatat pertumbuhan sektor jasa AS meningkat pada Januari 2024 karena peningkatan pesanan baru dan pemulihan lapangan kerja.
Hal ini menunjukkan momentum pertumbuhan ekonomi dari kuartal IV/2023 meluas ke tahun 2024. PMI non-manufaktur ISM AS meningkat menjadi 53,4 dari 50,5 pada Desember 2023, lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei oleh Reuters sebesar 52,0. Angka di atas 50 menunjukkan pertumbuhan di industri jasa, yang menggerakkan lebih dari dua pertiga perekonomian.
“Data tersebut menambah laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis pada hari Jumat yang jauh melebihi ekspektasi dan memaksa pasar untuk menyesuaikan kembali prospek penurunan suku bunga, kekuatan dolar, dan seberapa tinggi imbal hasil treasury meningkatkan mata uang AS,” ujar Ibrahim dalam riset, dikutip Rabu (7/2/2024).
Pada perdagangan Selasa (6/2/2024), rupiah ditutup melemah 0,14% atau 22 poin ke level Rp15.730 per dolar AS. Pada saat bersamaan, indeks mata uang Negeri Paman Sam terpantau melemah 0,12% ke posisi 104,33.(BR/Arum)