Bisnis
Para Investor Hati-Hati Mempertimbangkan Kenaikan Suku Bunga AS, “Bursa Asia Bergerak Mixed”
BISNISREVIEW.COM – Bursa Asia bergerak mixed di tengah kehati-hatian para investor yang mempertimbangkan prospek kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi menyusul komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve.
Bursa Asia dibuka bervariasi pada perdagangan Kamis (2/3/2023) pagi, dengan mayoritas indeks menguat. Pukul 08.25 WIB, indeks Nikkei 225 naik 24,95 poin atau 0,09% ke 27.541,79, Hang Seng turun 229,69 poin atau 1,11% ke 20.390,02, Taiex turun 18,83 poin atau 0,13% ke 15.579,83, Kospi naik 13,50 poin atau 0,59% ke 2.426,39, ASX 200 naik 14,40 poin atau 0,20% ke 7.266, Straits Times turun 12,48 poin atau 0,38% ke 3.242,90 dan FTSE Malaysia turun 2,84 poin atau 0,20% ke 1.447,36.
Pasar saham Asia mengalami kenaikan pada hari Rabu (1/3/2023) setelah data ekonomi China yang optimis mendukung prospek ekonomi global dan mengangkat sentimen pasar. Namun, investor tetap berhati-hati karena kabar buruk di Wall Street semalam karena pasar resah tentang prospek puncak suku bunga AS yang lebih tinggi.
Mengutip Bloomberg, tingkat suku bunga kebijakan AS diperkirakan akan naik ke level 5,5% pada September, bahkan beberapa trader bertaruh bahwa kemungkinan suku bunga The Fed bisa mencapai level 6%.
Sedangkan investor di Asia menangkap tanda-tanda bahwa ekonomi China akan pulih dengan kuat setelah pencabutan kebijakan zero Covid. Hal ini membuat suasana pasar di Asia sedikit lebih optimistis dalam beberapa hari terakhir.
Investor Asia juga menantikan kongres rakyat nasional di China untuk mencari tanda-tanda dukungan kebijakan untuk pasar.
“Kabar baik dari China adalah apa yang benar-benar dibutuhkan pasar pada saat ini di mana secara global kita melihat masalah inflasi tidak akan hilang,” kata Char Chanana, ahli strategi pasar senior di Saxo Capital Markets kepada Bloomberg Television.
Namun, Chanan juga memperingatkan bahwa kabar baik ini bisa memiliki sisi negatif bagi inflasi global.
“Narasi pembukaan kembali ekonomi China menambah tekanan siklus karena banyaknya permintaan yang dapat diciptakan China,” ujarnya.
Para analis menyatakan bahwa hasil data yang lebih lemah di kawasan Asia menunjukkan tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan di Asia dalam menangani inflasi dengan menaikkan suku bunga, tanpa menghambat pemulihan ekonomi mereka yang sudah menghadapi tekanan dari perlambatan ekonomi global. (BR/Arum)